Tak Ada Kehidupan dalam Kelopak Matanya

Ruangan itu menjadi saksi bisu Sang Gadis ketika dia sedang memutuskan apakah harus bergegas dari situ atau menetap selamanya. Tubuhnya selalu merespons dengan bosan karena terlalu lama menetap di atas kasur berukuran 180 cm x 90 cm itu. Bukan karena ukurannya yang terlalu pendek—tubuh Sang Gadis pun juga tidak setinggi itu—melainkan karena ada malaikat yang selalu bertengger di sebelah kanan dan kiri pundaknya untuk mencatat tingkah laku Sang Gadis. Malaikat di sebelah kanan akan mencatat kebaikan, sementara malaikat di sebelah kiri akan mencatat keburukan Sang Gadis. Ini adalah pernyataan dari Tuhan yang dipatuhi oleh Sang Gadis. Sang Gadis memang bukan orang yang percaya pada pernyataan Tuhan sepenuhnya. Tapi, orang yang tidak percaya Tuhan pun hidupnya akan terus mengadopsi beberapa pernyataan oleh Tuhan. Orang yang tak bertuhan pun itu juga proses dirinya untuk menjadi orang yang bertuhan, bukan?
Karena Sang Gadis masih patuh dengan pernyataan Tuhan—ya mau tidak mau—Sang Gadis terpaksa beranjak dari kasurnya dan bergegas untuk menjalani rutinitas yang monoton. Sebuah kontinuitas yang selalu berusaha untuk tidak pernah dia benci, tapi tak bisa dipungkiri, bahwa dia sangat membenci melakukan rutinitas itu karena dengan melakukan itu, dia justru kehilangan dirinya sendiri. Menjadi manusia yang bersikap normatif dan performatif membuat setiap gerakan yang dilakukan oleh Sang Gadis terasa seperti simulasi yang gagal. Setiap hari, Sang Gadis tidak pernah memperhatikan model dan warna baju apa yang akan dikenakan atau barang apa saja yang akan dibawa ketika bergegas dari ruangannya. Ia bahkan enggan untuk mengikuti tren yang biasanya berseliweran di beranda sosial media. Baginya, tren itu hanya sementara, tidak dibawa mati juga. Akan tetapi, yang selalu diperhatikan oleh Sang Gadis yaitu apakah topeng yang akan dia kenakan sudah terpasang dengan presisi yang pas. Topeng itu wujudnya tak kasat mata, hanya Sang Gadis yang dapat melihat dan merasakan keberadaan topeng itu.
Bagi Sang Gadis, pakaian hanyalah selembar kain yang berfungsi sebagai pelindung raga. Sementara itu, topeng adalah raga itu sendiri. Dia bisa saja menggunakan jilbab yang mencong—walaupun dia sendiri tidak tahu apa fungsi jilbab yang dia kenakan itu—atau baju yang luntur dan kusut karena tak sempat dicuci bersih lalu disetrika. Dunia tidak pernah benar-benar peduli apa yang dia kenakan. Dengan semua variabel itu, dunia tetap akan melihatnya sebagai manusia yang “beres” asalkan apa yang dipancarkan melalui wajahnya terlihat presisi. Setiap kali Sang Gadis melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan itu, ada sebuah pengkhianatan kecil terhadap dirinya sendiri. Semua itu seolah menjadi pertukaran antara ketenangan batin dengan validasi dunia yang sebenarnya tidak pernah peduli.
Di tempat Sang Gadis melakukan rutinitasnya, semua orang juga bersikap normatif dan performatif. Mereka telah memiliki rancangan hidup yang linear. Ada sebuah cetak biru yang telah disepakati secara kolektif, di mana keberhasilan diukur dari seberapa patuh mereka pada garis waktu yang sangat kaku. Sang Gadis memang tidak terlalu ambisius untuk merancang hal-hal yang berbau dengan duniawi. Dan dia juga tidak terlalu religius untuk mengejar ukhrawi yang katanya kekal—hanya Tuhan yang tahu. Walaupun dalam diamnya, Sang Gadis cukup religius untuk memaknai bahwa dia tak punya kendali atas jalan hidupnya. Bagaimana pun, Sang Gadis juga masih meyakini beberapa pernyataan Tuhannya. Sebagai manusia modern yang memiliki keturunan homo sapiens dengan keahlian “survival of the fittest”, dia kini terjepit oleh ideologi kapitalisme yang sebenarnya dia tidak terlalu cocok untuk hidup dengan ideologi ini. Namun, dengan mengadopsi aliran filsafat “stoicisme” yang dicetuskan oleh Marcus Aurelius, Sang Gadis cukup memahami bahwa satu-satunya hal yang masih bisa dia kendalikan sepenuhnya hanyalah raga dan jiwanya sendiri. Tak ada klaim atas raga dan jiwanya. Mungkin hanya Tuhan, karena memang di dunia ini kita hidup menggunakan seluruh variabel yang diciptakan oleh Tuhan dan Tuhan menitipkan kepada kita untuk menjaganya.
Tapi, Sang Gadis masih bingung alasan Tuhan menciptakan seluruh variabel yang ada di dunia ini. Ah, tapi… Dia tidak mau memikirkannya lebih jauh. Lelah. Sang Gadis tak punya guru agama untuk bisa memberikan jawaban dan solusi dari pertanyannya.
Omong-omong, sudah lama dia tak kembali ke kampung halaman. Tapi, hal itu bukan semata-mata karena Sang Gadis tidak ingin kembali ke pelukan orang terdekatnya. Melainkan karena Sang Gadis tidak ingin pulang dengan tangan kosong, pamali katanya. Apabila hal ini terjadi, Sang Gadis pasti akan malu karena banyak bisikan setan (baca: tetangga) di kuping yang menuntutnya untuk “jadi orang”. Lho, selama ini Sang Gadis ternyata bukan orang?
Dia benci dengan tolok ukur “jadi orang” yang begitu-begitu saja. Standar itu tidak pernah berubah di masyarakat, mereka menganggap bahwa sukses itu harus kaya raya 7 turunan tanpa terputus. Ah, tidak variatif. Seperti makan roti tawar setiap hari sampai hari kiamat tanpa taburan selai di dalamnya, padahal kita bisa mengolah roti tawar itu menjadi sandwich atau dicelupkan saja ke dalam kopi panas. Bukankah setiap individu punya selera dan pilihannya masing-masing?
Sang Gadis tidak minder sama sekali karena hal ini. Toh, dia bukan tidak bisa “jadi orang” karena dirinya terlena dengan urusan duniawi, tetapi pada kenyataannya, hidup memang tidak pernah adil pada orang-orang yang tidak sesuai dengan standar di masyarakat, khususnya pada orang-orang yang cenderung menggunakan otak kanan dalam berpikir. Mereka disebut bodoh, aneh, nakal, dan sebutan tidak senonoh lainnya. Padahal, mereka hanya ingin mengeksplorasi hidupnya lewat segala hiruk pikuk imajinasi yang ada di dalam kepalanya. Tidak ada 19 juta lapangan pekerjaan yang dijanjikan oleh Wakil Presiden untuk orang-orang yang kreatif. Karena pekerja kreatif itu adalah pekerjaan yang semu.
Dan ini menjadi sebuah pergulatan batin Sang Gadis, kenapa banyak orang memilih jalan hidup yang lurus-lurus saja? Apa karena Tuhan memerintahkan kita untuk berada di siratal mustaqim? Rasanya, Tuhan tidak pernah memaksa hamba-Nya untuk berada di siratal mustaqim. Itu hanya perintah tolol yang direproduksi oleh pemabuk agama agar mendapat julukan “orang saleh”. Mereka berusaha menjadi nabi urban hanya dengan menelan mentah-mentah artinya secara harfiah, tanpa mau melihat dari berbagai sudut pandang. Pernyataan Tuhan itu fleksibel, Tuhan membebaskan kita untuk mencari pahala, begitupun untuk mencari dosa. Dan Tuhan tak pernah sedikit pun membebani hamba-Nya untuk beribadah.
Sang Gadis tak pernah mendapati jawaban atas keresahannya. Dia bahkan meminta Tuhan untuk memanggilnya, terserah Tuhan mau sekadar memberikan mati suri atau langsung saja mati—asalkan syahid—pinta Sang Gadis. Namun, niat itu dia urungkan karena suatu hari Sang Gadis bertemu dengan Sang Pemuda ketika dia sedang berada di persimpangan antara memilih untuk mati suri atau mati syahid.
“Kenapa pikiran mati selalu terlintas di kepalamu?” tanya Sang Pemuda. Suaranya datar, tidak menghakimi, seolah kematian adalah hal yang wajar dibicarakan di siang hari.
Sang Gadis hanya diam, mencoba mencari jawaban di sela hembusan napasnya yang berat. “Aku pernah hampir sampai di sana. Tertabrak mobil dengan kecepatan tinggi. Anehnya, aku hanya luka ringan,” gumamnya. “Dan di momen itu, aku justru marah. Kenapa Tuhan tidak sekalian saja menarik garis akhirnya? Barangkali aku bisa pulang dengan label mati syahid daripada aku harus kembali ke dunia ini.” Sang Pemuda hanya mengangguk-angguk, bahasa tubuh yang digunakan untuk mencoba mencerna apa maksud dari omongan Sang Gadis.
“Aku juga pernah hampir mati sedang sakit keras. Dokter sudah mengimbau kepada orang tuaku untuk banyak-banyak berdoa karena penyakitku sulit disembuhkan. Sayangnya, Tuhan memintaku untuk melanjutkan hidup kembali. Mau tidak mau, perintah-Nya harus kujalankan dengan berat hati.” Sang Gadis melanjutkan perkataannya dengan penuh kekesalan.
Semenjak itu, Sang Gadis jadi selalu marah kepada Tuhan. Sebenarnya, dia masih mengandalkan dan meminta pertolongan dari Tuhan, hanya saja dia tak pernah punya gairah untuk mengingat Tuhannya itu. Dia mencoba mencari sisa rasa cinta dan sayang kepada Tuhan, tapi tak pernah tahu jawabannya di mana.
“Bukankah mati dengan label syahid itu kehendak Tuhan?” tanya Sang Pemuda dengan hati-hati.
Mendengar pertanyaan itu, Sang Gadis hanya menyeringai. Dia merapikan posisi hijabnya yang mencong lalu berkata, “Kalau kita berprasangka baik bahwa Tuhan akan melabeli kita dengan mati syahid, bukankah itu bisa saja menjadi kenyataan? Tuhan senang dengan hamba-Nya yang punya prasangka baik.”
Sang Pemuda tidak menanggapi dengan kalimat yang klise. Dia tidak mengutip ayat atau menjanjikan pahala. Sang Pemuda justru berkata, “Kemarahan dan keraguan itu adalah bukti bahwa kamu masih punya sesuatu. Toh, kamu juga masih mempercayai Tuhan karena kamu selalu beprasangka baik pada-Nya,” jawab Sang Pemuda tenang. “Banyak orang bahkan sudah lupa cara marah. Mereka sudah terlalu nyaman dengan istilah ‘jalanin saja dulu’. Setidaknya, dengan marah, kamu sedang menunjukkan bahwa jiwamu masih berfungsi.” lanjut Sang Pemuda.
“Kurasa kau tidak memahami bahwa jiwaku sudah mati. Aku sudah jarang beribadah, melupakan firman-Nya, dan bahkan aku selalu menghindar ketika tak sengaja berpapasan dengan orang yang berjubah panjang karena takut diceramahi.” Sang Gadis menatap ke langit, seolah dia tidak hanya berbicara kepada Sang Pemuda saja, tapi juga kepada Tuhan. Suaranya sedikit gemetar, menahan isak yang sulit dikemukakan. Sang Pemuda hanya menunduk diam, bingung hendak membalas dengan kalimat apa. Mulutnya mendadak bisu. Sepertinya, Sang Gadis memang sudah menyerah akan hidupnya.
Tetesan air mata itu mendadak jatuh dari mata Sang Gadis. Dia terisak cukup berat, tapi kelihatan sekali bahwa Sang Gadis bersusah payah untuk berusaha menahannya. Isakannya itu akhirnya melontarkan sebuah kalimat yang tak terduga, “Aku ingin diriku terbunuh oleh siapapun dan apapun. Asal jangan diriku sendiri yang membunuhnya, karena aku tahu bahwa Tuhan akan kecewa denganku. Sebab, aku masih meyakini Tuhan akan selalu sayang padaku—meski aku tidak mampu membalasnya.”
Besok adalah hari yang penting bagi Sang Gadis, tapi dia lebih memilih untuk menyerah sebelum berperang. Dia hanya ingin satu, mati dalam keadaan syahid. Sang Gadis hanya ingin kedamaian di tempat peristirahatan terakhirnya. Tak peduli akan masuk ke surga atau neraka, karena itu kehendak Tuhan. Apabila Tuhan menghendakinya masuk neraka, toh semua orang tidak ada yang benar-benar tahu apakah surga memang lebih baik daripada neraka. Bagaimana jika neraka hanyalah fiktif dan pada kenyataannya tak seburuk itu?



Comments