Elegi Bunga Kaca

Jembatan berbingkai emas merupakan pemandangan pertama yang dilihatnya kala pertama perempuan itu membukakan mata. Kini yang ia ketahui hanyalah kenyataan bahwa dirinya baru saja terbangun dari tidur yang entah berapa lamanya. Perempuan itu terpaku, belum pernah disaksikannya seumur hidup pemandangan semacam itu, bak negeri dongeng batinnya.
“Aku… ada di mana?”
Desir angin yang menjadi satu-satunya jawaban atas pertanyaannya. Perlahan disusurinya jembatan berbingkai emas itu, lalu diperhatikannya di bawah jembatan yang kini ia pijak terdapat hamparan bunga-bunga yang sekilas tampak seperti permata. Diperhatikannya lagi bunga itu, lebih dekat, matanya silau lantaran kelopaknya tak seperti bunga pada umumnya. Ternyata kelopaknya dibingkai atas helaian kaca bening yang ketika diterpa cahaya kelopaknya kembali memantulkan cahaya tersebut.
Jauh semakin ia susuri jembatan itu, makin asing pula dunia itu dirasanya.
Sembari menyusuri, ia memaksakan dirinya untuk mengingat. Jauh sebelum dirinya terlelap apa yang sebetulnya terjadi? Bagaimana bisa ia terbangun di negeri yang terasa begitu asing ini?
Namun ia tak juga menemukan jawaban.
Ia paksa dirinya untuk terus mengingat, lebih dalam dan lebih keras. Nihil sebab lagi-lagi hanya desir angin serta jembatan emas dan bunga kaca yang menjawabnya.
Disusurinya lagi jembatan itu hingga kini terbawa semakin jauh sampai ia menemukan dirinya telah berdiri di dalam sebuah hutan yang dipenuhi belukar dengan pepohonan yang menjulang tinggi menutupi langit dengan semak-semak yang begitu rapat seolah sedang menutupi sesuatu.
Perempuan itu terdiam.
Bagaimana jika dirinya akan disambut makhluk buas?
Biarpun firasat merasuknya dan ketakutan mengikat kedua kakinya, tetap disusurinya hutan itu. Perempuan itu mendengar suara.
Dari kanan.
Bukan.
Dari depan.
Tidak.
Langkahnya terhenti. Sunyi kembali menemani.
Saat ia hendak melangkahkan kembali kedua kakinya ia merasa ada sesuatu lembut yang menggeliat di antara kedua kakinya.
Sontak perempuan itu berteriak, “Ah!”
Ternyata sesuatu yang lembut itu adalah kucing berbulu panjang. Bulunya terlihat aneh sebab yang membalut sekujur tubuhnya adalah garis-garis ungu dan hitam sementara ujung bulunya berkelap-kelip.
Perempuan itu menyebut nama Tuhannya berulang dalam hati. Seolah mendengar isi hati perempuan itu, si kucing mendongakkan kepalanya perlahan.
Lalu…
Tersenyum pelan…
Semakin merinding dirinya dibuat lantaran senyuman kucing tersebut tak patut diartikan sebagai senyuman seekor hewan, tetapi sebuah senyuman yang teramat lebar, seolah mengisyaratkan suatu pertanda.
Sekujur tubuh perempuan itu membeku, bulu kuduknya berdiri.
“Kau,” ujar Si Kucing.
“Ah!” jerit perempuan itu seraya mundur selangkah.
“Asalmu bukan dari negeri ini, bukan?”
Terdiam. Perempuan itu terdiam. Mulanya ketakutan menguasai dirinya, namun begitu pertanyaan tersebut diutarakan, terdiam sejenak perempuan itu dibuat. Mungkin saja… kucing ini mengetahui sesuatu!
“Bagaimana… kau bisa tahu?”
Kucing itu menyeringai lebar.
“Warna jiwamu berkata demikian.”
Perempuan itu mengernyitkan dahi.
“Warna… jiwaku?”
“Seluruh penghuni negeri ini memiliki warna jiwa, dimana warna jiwa itu akan selalu berbeda-beda dari penghuni satu dengan penghuni lainnya. Dari mereka ada yang memiliki warna merah seperti fajar, biru bagaikan lautan, hingga putih laksana cahaya,”
Kucing itu kemudian menatap diri perempuan itu, lama.
“Tetapi dirimu… dirimu berbeda. Kau tidak memiliki warna secercah pun.”
Perempuan itu bingung dibuatnya. Belum pernah dirinya mendengar sebuah konsep seperti “warna jiwa”.
“Tuan Kucing…”
Kucing itu balas mengernyitkan dahi.
“Apakah kau berkenan ku panggil seperti itu?”
“Tentu.”
“Kalau kau mengerti hal semacam itu, mungkin saja… kau mengetahui dari mana diriku berasal?”
Senyuman yang semula menghiasi raut wajah kucing itu perlahan memudar.
“Sayang sekali Nona, namun aku tidak mengetahuinya. Mereka yang terpanggil dari dunia lain sangatlah jarang. Terakhir aku mendengar fenomena seperti ini adalah sekitar enam ratus purnama silam.”
Perempuan itu terlihat lemas.
“Lalu… apakah ada jalan bagiku agar bisa kembali pulang?”
“Ada Nona.”
Binar mata perempuan itu kembali.
“Kalau begitu, berkenankah kau memberitahuku?”
“Tentu, tetapi sebelum kau kembali, kau harus mengingat terlebih dahulu tempat asalmu.”
“…Sudah ku coba, namun nihil Tuan Kucing.”
“Kau belum mencobanya, mustahil kau tidak mengingatnya.”
“Demi Tuhan… sudah ku coba.”
Kucing itu menggelengkan kepalanya.
“Kau bukannya tidak dapat mengingat, hanya saja kau belum mengizinkan dirimu untuk mengingat.”
Ucapan itu lantas menggantung di udara, disusul dengan kebingungan.
“Saat ini kau akan ku temani terlebih dahulu menyusuri hutan ini, Nona.”
Semakin dalam kini mereka berada di dalam hutan, disambutlah mereka oleh bunga seperti terompet yang menjuntai ke bawah berkelopakkan putih.
Aneh.
Dirinya merasa begitu akrab dengan bunga itu, seolah pernah dijumpainya.
Tiba-tiba Tuan Kucing menyeletuk memecah keheningan, “Kau ingin kembali ke tempat asalmu, bukan?”
“Benar sekali.” Jawab perempuan itu.
“…Baru saja teringat olehku, aku mengenal seseorang yang mampu membantumu.”
“Siapakah dia?”
“Sang Raja.”
Belum sempat perempuan itu melempar pertanyaan, Tuan Kucing kembali menyeringai lebar.
“Dalam hitungan ke belakang, kau saksikan dirimu dihadapkan dengan Sang Raja.”
“Tunggu!”
“Tiga…”
“Dua…”
“Satu.”
Hilang, hutan itu lenyap seketika.
Kini perempuan itu disambut dengan lanskap pemandangan yang baru. Kini ia berhadapan dengan tangga yang begitu menyilaukan sebab dilihatnya tangga itu dibangun atas bongkahan es, lalu diperhatikannya lagi sekitar, ternyata seluruh bangunan yang kini ia jajaki dibangun atas bongkahan es yang terlihat begitu megah dan barulah setelah itu ia menyadari dirinya berada dalam istana.
“Raja!” seru Tuan Kucing. “Aku membawakan seorang tamu. Ia tersesat, Raja. Tolong bantulah.”
klotak, klotak.
Terdengar seseorang menuruni tangga es itu.
Jubahnya tak berwarna, melainkan bening laksana embun.
Namun di bawah jubahnya…
Seseorang itu hanya mengenakan kemeja putih biasa dan celana kain sederhana berwarna hitam.
Perempuan itu mengedipkan mata sedang memastikan.
Sungguh, negeri apa ini?
“Halo, Perempuan yang Bukan Dari Sini.”
Suara Raja terdengar begitu santai.
“Kau, kau pasti tak ingat namamu.”
“Itu benar, Yang Mulia.”
“Hahaha… kau begitu kaku sekali… panggil saja aku ‘Raja’, tak perlu ‘Yang Mulia.”
Apa bedanya? Batin perempuan itu.
“Baik… Raja.”
Raja tersenyum lalu mengamati perempuan di hadapannya sesaat.
“Kau ingin kembali?”
“Benar.”
“Sebutkan darimana asalmu.”
“...Aku tak ingat.”
“Bukan tidak ingat.”
Raja tersenyum tipis.
“Kau belum mau mengingat.”
Perempuan itu memandang kakinya yang kini sedang berdiri di atas lantai es.
Absurd. Tiba-tiba saja ia sudah berada disini namun semua orang di negeri ini terus mengatakan hal yang sama.
Raja hanya menghembuskan nafas perlahan
“Apa boleh buat,”
“Kalau begitu biar pilihan saja yang mengingatkanmu.”
Seketika muncul dua pusaka masing-masing dari tangan kanan dan kiri raja.
Di tangan kiri, Raja mengepal bunga berbentuk terompet berwarna putih, sedangkan di tangan kanannya Raja mengepal bunga berkelopakkan kaca yang berkilau.
“Kau, pilihlah.”
Perempuan itu menatap keduanya.
Apapun yang Raja itu siratkan, ia coba untuk memilihnya dengan berhati-hati.
Kini perempuan itu sedang berpikir keras.
Bunga kaca terlihat begitu indah mirip permata.
Namun bunga berbentuk terompet putih itu,
Memberikan rasa kerinduan yang begitu dekat yang tak dapat ia artikan.
Pada akhirnya ia meraih bunga berbentuk terompet putih itu.
Raja tersenyum.
“…Apa pun pilihanmu, selalu ada berat yang harus kau jinjing.”
Perempuan itu mengangguk.
“Aku… siap.”
“Baiklah. Kalau begitu,”
“Bangunlah.
Cahaya putih menyilaukan menembus kelopak matanya. Suara-suara yang samar terdengar seperti desir angin yang meniup pepohonan di hutan perlahan berubah terdengar seperti isak tangisan.
“...Alisa!”
Pandangannya masih buram. Langit-langit putih dengan aroma antiseptik menjadi sensasi yang dirasakannya kala terbangun. Di sisi ranjang tempat ia kini terbaring lemas berdiri tabung infus yang menetes perlahan, sedangkan di meja kecil dekat ranjangnya terletak sebuah vas yang berisi bunga hias berkelopakkan kaca.
“Puji Tuhan…” isak seorang wanita sambil merangkul tangan perempuan itu. “Ibu pikir ibu telah kehilangan kamu…”
Perempuan yang dipanggil “Alisa” itu tadi pelan-pelan mengedipkan matanya.
“Nak… jangan pernah kau meminumnya lagi ya… tolonglah ibu… jangan pernah lagi.”
Alisa menoleh ke arah vas bunga itu.
Sekajap,
Alisa masih merasakan sisa kilauan bunga-bunga kaca itu.



Comments