top of page

Namanya Kakek Suroto

Oct 12
10 min read
Sumber:Pickpik
Sumber:Pickpik

Ada setidaknya dua hal yang paling Sasha benci di dunia ini.


Pertama, namanya. Jujur saja, Sasha tidak menyukai nama pemberian sang ayah yang begitu terobsesi pada segala hal tentang geologi, terutama mineral dan batuan. Sapphire. Alihalih tampak keren, namanya malah diplesetkan menjadi sapi oleh teman-temannya dulu. Menyebalkan! Makanya, Sasha hampir tidak pernah menyebutkan nama asli jika tidak sedang kepepet atau—dalam tanda kutip—wajib.


Kedua adalah tetangga samping rumahnya. Memang agak kurang ajar, mengingat tetangganya itu ‘hanya’ seorang lansia 70 tahun yang menderita sakit persendian. Awalnya Sasha tidak ada masalah dengan kepindahan sosok tersebut sejak empat bulan yang lalu, tetapi belum genap satu minggu setelahnya persepsi Sasha berubah 180 derajat. Faktanya sekarang, Sasha tidak menyukai tetangga barunya... dan dia punya banyak alasan untuk itu.


*****


Namanya Kakek Suroto. Empat bulan yang lalu baru pindah dan resmi menjadi tetangga samping rumahnya. Dari gosip yang Sasha dengar, anaknya seorang pengusaha kuliner sukses, tapi meski begitu Kakek Suroto tinggal sendirian tanpa sanak keluarga.


Baru-baru ini, Sasha bisa menebak alasan di baliknya. Iya, apa lagi kalau bukan karena Kakek Suroto adalah kakek tua yang menyebalkan dan—mungkin juga—merepotkan. Seminggu setelah mereka bertetangga, Sasha seperti lupa rasanya tidur dengan nyenyak. Seperti saat ini.


Sasha menutup telinganya dengan bantal dan menggeram kesal. “Kenapa harus setel lagu tengah malem begini, sih?!” Selalu. Selalu seperti ini tiap malam, seolah itu menjadi suatu rutinitas bagi pria tua itu. “Mana lagunya serem semua lagi! Agh! Apa nggak kurang kenceng itu suaranya? Dasar Aki-aki nyebelin! Ya Tuhan, aku mau tiduurrr!!!” dumalnya frustasi.


Sasha mau menangis saja rasanya. Apalagi kamar mereka bersebelahan, hanya terpisah balkon kamar masing-masing. Yang paling menyebalkan adalah genre lagu dan melodinya benar-benar tidak nyaman didengar. Kadang terdengar begitu sedih, sampai-sampai pernah membuat Sasha menangis tanpa sadar. Kadang hanya instrumen tanpa lirik, begitu asing dan malah terdengar seram dengan nada-nada tingginya.


Anehnya, kakek tua itu hanya menyetel musiknya di atas jam sebelas malam hingga meleweti dini hari. Menyebalkan, bukan? Benar-benar mengganggu tidur Sasha saja!


Alhasil, genap satu bulan sejak kepindahan Kakek Suroto, mata Sasha menjadi kian mirip dengan panda. Ini menjadi salah satu dari sekian alasan kenapa dirinya membenci pria tua itu. Saat awal kepindahan, Kakek Suroto tidak pernah tersenyum apalagi tertawa. Wajahnya kalau tidak datar, pasti mengerut marah. Terlihat sangar dan tampak menakutkan dengan codet yang melintang di alis hingga pipi kanannya. Seolah bekas luka itu saja sudah cukup menggambarkan betapa brutalnya masa muda Kakek Suroto.


"Pasti dulunya preman,” gumam Sasha sembari melewati Kakek Suroto yang menatapnya tajam dari balik pekarangan rumahnya. Ia hanya menunduk, enggan menyapa atau tersenyum karena pasti tidak akan dibalas. “Serem, ah. Pantes anaknya males ngurusin, bikin tekanan batin terus.”


Sasha berhenti di halaman rumahnya saat melihat ada satu pot asing ikut berjejer di antara koleksi tanaman sang bunda. Senyum gadis itu mengembang melihat bunga peace lily di atasnya, tampak cantik dengan warna putih di antara dominasi tanaman hijau. Padahal Sasha hanya asal menyeletuk karena dia sendiri memang tidak pandai merawat tanaman.


“Bundaaa! Bunga di depan itu punyaku, kan?” Sasha memasuki rumahnya dengan setengah berteriak. Namun, langkahnya tertahan saat sesuatu berbulu menyentuh kakinya, tidak lama suara mengeong terdengar. Sasha terperanjat dan tanpa sadar menendang anak kucing putih itu hingga terpental agak jauh.


“Sap! Kucing, Sap! Hati-hati tadi habis nyolong ikan mujaernya Bunda!” Dari arah dapur sambil membawa sutil, bundanya berlari dengan panik. “Loh, ngapain kamu duduk di lantai begitu?” tanyanya sambil mengulurkan tangan membantu putrinya berdiri.


Sasha mendengkus. Entah kesal karena si kucing atau mendengar panggilan sang bunda. Padahal dirinya sudah berulang kali meminta agar dipanggil Sasha, bukan Sapphire apalagi Sap! Sasha lalu melirik kucing putih yang kini meringkuk kesakitan. Gadis itu langsung mengambil kucing tersebut dan membawanya keluar. Meski merasa bersalah, Sasha tidak bisa melakukan apapun karena ibunya tidak suka kucing.


Sasha bingung. Ini sudah ketiga kalinya kucing putih itu memasuki rumah, jadi kali ini Sasha harus membawanya sejauh mungkin agar tidak kembali lagi. Selesai dengan urusan si kucing dan segala tetek bengeknya, ketika kembali ke rumah Sasha tidak sengaja melihat ada anak kecil yang menangis begitu keras dan di depannya Kakek Suroto yang berkacak pinggang dengan ekspresi tampak marah. Sasha langsung mengerti apa yang terjadi.


Pantes nangis... dimarahin kakek pemarah itu ternyata. Ini menjadi hal biasanya untuknya. Minggu lalu, gadis itu tak sengaja mendengar obrolan ibu-ibu penggosip di warung. Mereka kompak membahas tentang Pak Suroto yang tampak sombong dan atau juga membicarakan soal keluarga kakek tua itu yang tidak pernah kelihatan batang hidungnya sejak awal pindah. Semuanya dibahas tuntas sampai pada kesimpulan yang hanya sebatas prasangka.


“Ini kenapa Bunda nggak suka ngobrol sama ibu-ibu lain. Pasti ujungnya ngegosip,” jawab bundanya saat Sasha bercerita.


“Tapi kan banyak yang setuju, artinya itu udah divalidasi dong, Bun, alias bukan cuma gosip, tapi fakta!” Sasha membalas.


“Sap, banyak yang setuju itu bukan berarti benar. Sejak kapan persetujuan banyak orang menjadi parameter dari benar tidaknya suatu hal? Kebenaran bisa relatif, tapi sekali fakta... tetap satu hal pasti yang nggak bisa dinego atau ditoleransi. Validasi yang kamu maksud tadi itu nggak lebih dari pembenaran asumsi orang-orang yang malas mencari fakta. Sebenarnya, Sapphire, penggosip itu cuma mau ngungkapin rasa nggak suka dan prasangka mereka aja, nggak pernah bener-bener mau tau apa yang sebetulnya terjadi.”


Sasha menundukkan kepala. Bundanya bukan tipe orang yang suka ceramah, tetapi sekalinya memberi wejengan pasti selalu nyelekit sampai ke dada.


“Tapi Kakek Suroto nggak pernah bales sapaanku. Masa aku senyum, orangnya malah melotot. Sekalinya ngomong pasti nadanya nyebelin,” cicit Sasha mengadu. “Bunda juga tahu kan kalau tiap malem Kakek Suroto setel musik aneh? Mana keras banget lagi, aku sampai nggak bisa tidur.”


Terdengar terkekeh pelan disusul elusan ringan di rambut panjang miliknya. “Selalu ada alasan di balik semua hal, Sap. Kalau kamu memang mau tau, kenapa nggak tanya langsung ke orangnya? Daripada jadi prasangka, nggak enak, ‘kan?” kata sang bunda lembut.


Sasha hanya tercenung. Bertanya langsung? Ke Kakek Suroto yang mukanya selalu kelihatan marah itu? Ayolah, itu mustahil. Senyum saja tidak dibalas, apalagi pertanyaan sensitif seperti ini? Bukannya mendapat jawaban, Sasha pasti dilempar dengan tongkat yang biasa pria tua itu pakai!


Selanjutnya, hari-hari berjalan seperti biasa. Hidupnya kembali mengalir normal. Bunga lily yang ditanam di pot tampak segar dan cantik, padahal Sasha hampir tidak pernah menyiram, tetapi tanahnya selalu lembab berkat bundanya. Anak kucing itu pun tidak pernah lagi terlihat atau masuk ke rumah Sasha lagi. Ditambah, beberapa minggu ini selalu ada semangkuk bubur ayam—makanan favoritnya—di meja makan, entah bundanya beli di mana, tapi rasanya benar-benar lezat. Andai hidupnya terus seperti ini...


“Safir! Kamu mau biarin laki-laki asing masuk ke rumahmu di saat bundamu sedang keluar?! Tidak bisa! Kakek tidak izinkan!”


... tetapi tidak. Tuhan tampaknya punya alur tersendiri.


****


Namanya Kakek Suroto. Pria tua pemarah dan aneh. Tidak pernah tersenyum apalagi tertawa. Hobinya memasang wajah garang di mana pun mereka bertemu. Selalu nampak angkuh dan sombong ketika disapa. Sasha tidak menyukainya sama sekali. Kemudian, insiden itu pun terjadi. Memperkeruh hubungan mereka.


Sasha masih tidak bisa memahami jalan pikiran pria tua yang sudah empat bulan ini menjadi tetangganya. Secara mendadak, Kakek Suroto berbicara dengan suara keras padanya dan Rei—teman laki-laki Sasha. Memarahinya di depan rumah ketika banyak orang yang berlalu-lalang. Tentu saja Sasha malu! Apalagi ketika Rei ikut diseret dalam masalah, Sasha menjadi sungkan sekaligus marah.


Mereka cuma teman dan sedang ada tugas kelompok. Demi Tuhan, haruskah Kakek Suroto menghakiminya begitu saja?! Yang membuat Sasha semakin muak adalah ketika pria tua itu berbicara sok seperti keluarganya, seolah dia memang kakek Sasha dan punya hak berbicara demikian. Tidak sama sekali!


“Safir, dengarkan Kakek! Tidak boleh ada laki-laki asing yang masuk ke dalam rumahmu tanpa izinku atau saat bundamu tidak ada!” Begitu kira-kira ucapan Kakek Suroto kala itu, begitu tegas seolah tak mau dibantah.


Sasha mendengkus kesal. Safir? Sejak kapan? Gadis itu membuang muka malas. “Maaf, Kakek, ini nggak seperti yang dibayangkan Kakek, kok. Kami cuma mau kerja kelompok dan udah izin sama bunda sebelumnya. Jadi—“


“Tetap nggak boleh! Nggak bisa! Tunggu bundamu pulang atau tidak sama sekali!


Tunggu dulu ... kenapa jadi otoriter begini? Dekat saja tidak. Alhasil, Sasha yang amarahnya sudah diubun-ubun pun meledak dan berkata, “Bisa! Aku bisa! Maaf-maaf aja kalau omongan nggak sopan, tapi Kakek Suroto nggak punya hak buat ngelarang bahkan marahin aku kayak begini! Sedikit pun itu! Inget, Kakek cuma tetanggaku, bukan ‘Kakek’-ku! Kalau mau ngelarang, larang aja cucu Kakek sendiri, jangan aku! Karena aku juga bukan cucumu!”


Kakek Suroto tampak terkejut, tapi dia tetap diam. Sayangnya, amarah Sasha belum sepenuhnya tuntas.


“Apa sebenernya Kakek nggak punya cucu? Atau jangan-jangan... punya cucu, tapi dibenci? Ah, menurutku itu wajar aja sih, karena misal aku di posisi yang sama, pasti aku juga merasa begitu. Aku bahkan malas ketemu Kakek!” tandas Sasha dengan tajam.


Sasha tahu itu sedikit keterlaluan—atau sangat, ya? Tapi mau bagaimana lagi, dia juga sakit hati dengan perlakuan Kakek Suroto yang semena-mena. Sasha merasa dipermalukan di depan temannya sekaligus dikekang oleh orang yang notabene hanya tetangga. Orang asing. Karena hal ini juga, dia tidak hanya di taraf tidak suka, tetapi membenci Kakek Suroto.


Satu bulan berlalu. Sasha benar-benar tidak menganggap presensi Kakek Suroto, bahkan saat pria tua itu sedang berbincang dengan bundanya atau menyiram bunga hydrangea di halaman rumah, gadis itu tidak menoleh sedikit pun. Ia masih marah. Lebih tepatnya, akan selalu marah pada kakek tua itu.


Satu bulan berlalu. Sasha benar-benar tidak menganggap presensi Kakek Suroto, bahkan saat pria tua itu sedang berbincang dengan bundanya atau menyiram bunga hydrangea di halaman rumah, gadis itu tidak menoleh sedikit pun. Ia masih marah. Lebih tepatnya, akan selalu marah pada kakek tua itu.


Tiga bulan berlalu. Kali ini Sasha benar-benar tidak melihat Kakek Suroto sama sekali. Sekaligus sudah tidak lagi mendengar musik khas tiap malam milik kakek tua itu. Kebun bunga hydrangea miliknya juga sudah banyak yang layu dan mati. Di waktu yang sama, seorang perawat wanita lebih sering terlihat di rumah Kakek Suroto, disusul kunjungan dokter hampir seminggu sekali. Kata Bunda, Kakek Suroto sedang sakit dan tengah dirawat.


Namun, menginjak bulan ke empat akan berlalu, Sasha turut menyadari perubahan kecil yang terasa familiar di lingkungan sekitarnya. Bunga lily di pot ternyata sudah mati karena layu, tanahnya kering seolah sudah berminggu-minggu tidak mendapat cairan. Padahal tanaman bundanya tampak segar dan terawat, kenapa bunganya malah mati? Selain itu, Sasha kembali melihat kucing putih yang dulu sering mengusiknya kini kembali berseliweran di sekitar. Eongan-nya kadang terdengar sedih dan putus asa. Lalu, ada satu hal lagi yang kurang.


“Bunda nggak beli bubur ayam lagi, ya? Padahal enak banget. Beli di mana dulu, Bun?”


Sang bunda yang masih asyik menonton TV menjawab asal, “Di samping rumah.”


“Serius, ih. Bundaaa!” rengek Sasha. Dia benar-benar rindu dengan bubur ayam yang dibelikan bundanya dulu. “Beli di mana bubur ayamnya? Aku beli sendiri, deh. Lagi pengen.”


“Ngomong apa, sih, kamu? Kakek Suroto dulu yang ngasih, bukan beli. Waktu Bunda nggak sengaja bilang kamu suka bubur ayam, besoknya langsung dikasih seporsi. Eh, malah keterusan dikasih seminggu sekali. Bunda sampe curiga sebenernya itu khusus bikinin buat kamu.”


Ha? Eh..? Pikiran Sasha seolah blank. Dia seperti orang linglung yang bingung harus menanggapinya dengan ekspresi apa. “Oh, ya, bunga lily di pot kok bisa mati, Bun?” tanyanya kemudian. “Nggak Bunda siram lagi?”


“Nggaklah. Itu kan bungamu, artinya tanggung jawab kamu sendiri. Jelas mati orang kamunya nggak pernah nyiram. Masih mending dulu ada Kakek Suroto yang bantu nyiram bungamu,” jawab sang bunda santai.


Wajah Sasha kaku seketika. Kakek Suroto ...lagi? “Tapi Bunda yang tanam—“


“Enggak, Sap. Bunda ‘kan berulang kali bilang kalau kamu mau tanam bunga, tanam sendiri, rawat sendiri, tanggung jawab sendiri. Itu dulu dikasih Kakek Suroto karena beliau denger rengekan kamu minta tanam bunga, jadi Bunda terima saja karena sungkan,” jawabnya santai, lagi dan lagi membuat Sasha membeku di tempat.


“Ka-kalau kucing putih yang dulu itu—“


“Baru-baru ini Bunda tahu kalau kucingnya ternyata dipelihara Kakek Suroto, jadi nggak ke sini lagi buat nyolong makanan. Orang majikannya aja loyal begitu.”


Itu menjawab pertanyaan kenapa kucing putih itu kembali berseliweran di sekeliling rumah Sasha, karena majikan yang biasa memanjakannya tengah sakit. Tubuh Sasha tiba-tiba melemas. Rasa bersalah menggerogoti hatinya. Takut. Perasaan penyesalan tak ada ubahnya seperti belenggu yang menjerat. Menyesakkan, melilit tanpa batas waktu.


Sasha berjalan mendekati sang bunda. “Aku pengen tahu soal Kakek Suroto yang sebenernya. Soal alasan dia nggak pernah senyum dan arti musik yang sering disetel, mungkin juga bekas luka di wajahnya? Atau... kenapa Kakek Suroto sedih tiap natap bunga hydrangea.”


“Kalau begitu, kamu harus tanya langsung sama orang yang punya jawaban aslinya.”


****


Namanya Kakek Suroto. Delapan bulan sudah menjadi tetangganya. Meski wajah pria tua itu selalu terlihat galak dan suka marah-marah, tidak pernah sekalipun tersenyum dan selalu menyetel musik menganggu tiap malam, Sasha baru tahu bahwa semua hal tadi ternyata hanya sebatas kamuflase untuk menyembunyikan kekosongan hatinya.


Dia bukan preman, codet mengerikan itu adalah bukti dari pengabdiannya pada negara. Kakek Suroto adalah seorang militan yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di medan perang. Seperti katanya, “Karena terlalu fokus pada pengabdian untuk negara, Kakek rela meninggalkan keluarga di rumah. Bertahun-tahun tak pulang, bertahun-tahun tak berjumpa, bertahun-tahun ditikam rasa rindu. Tapi kami semua tidak berdaya, hanya berjalan mengikuti suratan takdir.”


Istrinya mengandung bayi kembar, tetapi lagi dan lagi Kakek Suroto tidak bisa mendampingi karena ada tugas negara yang mendesak. Hingga hari lahiran pun... sosoknya sebagai seorang suami dan ayah masih belum bisa terpenuhi secara utuh.


“Istriku berjuang antara hidup dan mati seorang diri, anakku tumbuh tanpa cukup kasih sayang seorang ayah, hingga putriku lepas dari pengawasan dan terjerat hasutan syaitan. Aku bisa menjaga keutuhan NKRI, tapi tidak bisa menjadi pelindung bagi anak perempuanku satusatunya. Pantaslah jika putraku kemudian ikut benci padaku....” Kakek Suroto berhenti, menatap langit-langit kamar dengan pandangan sendu.


“Aku salah, aku merasa berdosa dan berhutang besar pada keluargaku. Hutang yang tidak akan pernah bisa kutebus sampai mati. Ketika istriku meregang nyawa karena sakit, aku pun masih tidak diberi kesempatan untuk menemani di saat terakhirnya. Satu-satunya yang membuatku merasa terhubung dengan istriku adalah lagu-lagu yang sering kamu dengar tiap malam. Itu membuatku merasa... bahwa aku tidak sendirian.” Air mata mulai mengalir deras.


“Safir...,” panggil Kakek Suroto lirih, Sasha segera mendekat. “Maaf karena membuatmu kesulitan, meski kamu tidak ingin, tapi aku sudah menganggapmu sebagai cucuku sendiri sejak datang ke rumah ini. Sekali saja, bisa kamu dengarkan permohonanku untuk yang terakhir kalinya?”


Mata Sasha basah, entah sejak kapan dirinya mulai menangis. “Kakek boleh anggap aku cucumu—tidak, aku memang cucumu, Kek.”


Kakek Suroto ikut menangis haru. “Kakek senang sekali sekarang, bisakah... bisakah kamu mengajari Kakek tua ini caranya tersenyum lagi? Kakek sudah lupa caranya.”


Tangisan Sasha pecah. Ia mengangguk kuat-kuat, dengan tangan gemetar jarinya bergerak menyentuh ujung bibir Kakek Suroto dan menariknya ke atas membentuk kurva lengkung yang sempurna.


“Kakek sudah tersenyum lagi.”


Kakek Suroto mengangguk lemah. “Terima kasih. Senang sekali bisa tersenyum, lagi.”


*****


Untuk yang terakhir, namanya Kakek Suroto. Genap satu tahun dia telah meninggalkan dunia dan segala rasa sakitnya. Figur galak dan pemarah itu seringkali tiba-tiba menimbulkan rasa rindu yang amat sangat. Namun, Sasha sangat bersyukur sebab ketika Kakek Suroto memutuskan pergi, dia melepas dunia dengan senyum di wajahnya.


Kakek Suroto pernah bilang, bahwa dirinya jauh dari kata baik. Maka, Sasha pun merasakan hal yang sama. Namun, mengenal kakek tua itu membuat Sasha sadar bahwa melakukan kebaikan tidak harus hanya bagi mereka yang baik. Bagi dirinya, kebaikan kecil dan sederhana yang dipandang remeh oleh banyak orang... adalah bentuk lain dari kebaikan itu sendiri.


Sesederhana, merawat bunga hydrangea milik Kakek Suroto, meski hanya satu tangkai, seperti permintaan terakhirnya sebelum napas terakhir. Hydrangea sangat penting bagi pria tua itu karena bunga tersebut adalah simbol permintaan maaf dan penyesalan mendalam.


“Aku ingin... permohonan maaf dan penyesalanku tetap ada lebih lama, melampaui usiaku di dunia ini. Terima kasih, Sasha. Cucuku....”


Sasha bukan orang paling baik, tapi Kakek Suroto memberinya kesempatan untuk melakukan hal baik dengan cara paling sederhana.


TAMAT


Comments


bottom of page