KEMATIAN DAN KEHIDUPAN
Senin, 31 Agustus 1987
Surabaya - 05.00 WIB
Kringg…kringg…kringg…kringg…
Suara alarm jam membangunkan Halim di jam 5 pagi.
Aku terbangun dengan pemandangan atap putih dan lampu kuning terang diatasku–tubuh ini rasanya tidak bisa bergerak, kaku, lelah. Ingin sekali rasanya menutup kembali kelopak mataku, ini bukan hari yang aku harapkan.
Beep…beep…beep… “424-031987660”
Suara pager menarik perhatianku dari meja.
Dari tempat tidur aku bangkit untuk melihat pager yang berada disamping meja, 424 artinya adalah hubungi kembali–dengan rasa malas yang masih menggerogoti tubuh aku berjalan keluar kamar untuk meraih telepon rumah. Aku memasukkan nomor yang terdapat di pager sembari menggerutu dalam hati “Pagi-pagi sudah menelpon, ngapain coba aku ini”.
Tuuttt…tuuttt…tuuttt…
Suara telpon menyambungkan.
“Selamat pagi Bapak Halim, terima Kasih sudah menghubungi kembali. Bapak Kuswanto menunggu di Line 8 ya pak” suara Lita, si penerima telepon kantor tempat aku bekerja, semua panggilan akan melalui Lita terlebih dahulu sebelum ke orang-orang yang ada di kantor.
Tuutt…
Suara angka 8 yang ditekan oleh Halim.
“Halo Pak Halim, bagaimana kabarnya?”. sebuah hal yang sangat jarang terjadi seorang Pak Kuswanto menanyakan kabar karyawannya, pasti ada sesuatu dibaliknya. “Alhamdulillah saya masih menghirup udara yang segar ini…bagaimana pak ada hal menarik apa yang harus saya liput hari ini?” balasku dengan senyum palsu di wajahku. “Saya mendapatkan kabar dari Ibu Lita, 4 hari lalu anda mengajukan diri untuk pindah divisi dari Jurnalis Investigasi menjadi Jurnalis Humanistik. Tolong datang ke ruangan saya hari ini pukul 08.40 ya” hal ini sangat aneh, tak biasanya Pak Kuswanto menghiraukan jurnalisnya untuk pindah divisi. “Baik bapak, saya akan segera ke kantor” telepon aku tutup dengan bayangan-bayangan hal yang akan terjadi nanti didalam pikiranku. Aku mengangkat langkah ku ke kamar mandi untuk mempersiapkan diri–aku terus memikirkan apa yang akan terjadi, aku sudah sangat tidak tahan berada di divisi investigasi karena impian ku sedari kuliah adalah menjadi jurnalis humanisme, disitulah aku seharusnya berada sejak dulu.
06.15 WIB - Menuju ke kantor
Ctek…ctek…ctek…brooomm…
Suara diesel khas mobil tempur Daihatsu Taft GL.
Cahaya terang pagi dari timur menembus kaca pintu kanan mobilku, hari ini aku terbangun dari tidurku tanpa motivasi. Telepon Bapak Kuswanto tadi sebenarnya membuatku merasa ada dorongan kembali untuk hidup, mimpi yang lama terpendam tiba-tiba menyala kembali.
Krek…krek…krekk…
Suara frekuensi radio yang berubah-ubah
~Kelana kota, Suara Surabaya, Seratus koma lima lima FM~ “Selamat pagi kawan para pendengar setia Radio Suara Surabaya 100,55FM saya Patrick Jonathans akan menemani pagi anda dari pukul 06.00 hingga 07.00 di Program Kelana Kota Suara Surabaya Radio”.
Suasana jalanan yang dipenuhi dengan suasana “tekanan kerja” tak ada orang tersenyum, semua orang merasa terburu-buru dan ingin cepat sampai tujuannya, dengan aku yang ditemani suara surabaya sembari memikirkan apa aku benar-benar akan pindah divisi membuat aku tenggelam didalam pikiran ku–rasanya mobilku berjalan dengan sendirinya.
CYIITTT…
Suara decitan ban mobilku menghindari pemotor.
Tiba-tiba saat aku hendak melewati sebuah persimpangan ada pengendara tidak bertanggung-jawab yang memotong jalanku secara mendadak. Memaksaku untuk membanting setir dan…
CYIITTT…BRAKK…VROOMMM….BYURR…
Mobilku menabrak pembatas jembatan dan terjatuh ke Sungai Jagir.
AAAAAAAAAA…DUG…
Aku terjatuh ditempat yang tidak pernah aku tau sebelumnya.
Aku meraba-raba tubuhku memastikan kondisiku, tetapi aku tidak bisa menyentuh wajahku. Tanganku menembus pipiku.
“DIMANA AKU?! AKU DIMANA?! HEI AKU TIDAK BISA MERASAKAN TUBUHKU”.
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri–cahaya putih sangat terang terlihat didepanku, aku bahkan tidak bisa menatapnya lebih dari 5 detik. Aku melihat ke belakang dan ada seorang laki-laki tua yang berdiri terdiam disana, aku pun menghampirinya
“DIMANA KITA?!” tanyaku dengan bingung dan panik
“Kamu pasti kesini secara tiba-tiba” jawab pria tua itu dengan sangat tenang
“HAH?! BAGAIMANA MAKSUDMU?” mendengar jawaban itu tidak membuatku tenang, justru sebaliknya.
“Aku telah hidup selama 102 tahun, justru inilah yang aku tunggu-tunggu anak muda” balasan pria tua itu membuatku terdiam sepenuhnya
“Tunggu, maksudnya aku sekarang sudah mati?” tanyaku dengan tidak siap menerima kenyataan
“Ini adalah jembatan kehidupan selanjutnya anak muda, nikmati garis selesai ini selagi bisa” setelah menjawab pria tua tersebut terseret ke arah cahaya terang itu
“Aku…meninggal?...” Aku tidak bisa menerima kenyataan ini.
Tubuhku terseret pelan-pelan ke arah cahaya, aku berusaha menarik kembali diriku dengan cara berlari melawan arah. Banyak sekali orang-orang yang telah menerima kematiannya dan masuk kedalam cahaya tersebut tetapi tidak denganku yang terus mencari jalan keluar dari dimensi ini.
Saat aku berlarian tanpa arah, aku melihat ke arah kanan jembatan yang nampak seperti tidak ada apapun yang membatasi–secara mengejutkan aku melihat sosok diriku terbaring lemah diatas kasur rumah sakit
“Aku belum meninggal…Aku belum meninggal…AKU BELUM MENINGGAL” teriakku dengan penuh harapan.
Aku mencoba melompat dari ujung jembatan untuk meraih tubuhku, tetapi terdapat dinding-dinding transparan yang menghalangiku. Aku tidak menyerah, aku mendobrak-dobrak dinding pembatas itu dan menendang dengan kuat hingga pada akhirnya kaki ku menembus dinding tersebut. Aku merangkak keluar melalui lubang yang dihasilkan dari tendanganku. Tetapi tidak disangka aku terjatuh ke kegelapan…

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA….
Suara teriakan ku menghilang perlahan-lahan.
….….AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA...

Tubuhku menghantam tanah, aku terjatuh disebuah dimensi penuh warna–tetapi sendirian. Aku berusaha mengangkat tubuhku, merasa aneh namun juga bersyukur mengira aku telah kembali ke bumi. Dari kejauhan aku melihat sosok yang tinggi dan bercahaya, melihat pemandangan aneh itu aku tidak ingin mendekat–namun sosok itu telah melihat keberadaanku. Sontak aku berlari menghindarinya karena ketakutan, tetapi sosok tersebut malah berusaha mendekat dengan pergerakan yang lebih cepat daripada lariku–aku pun mempercepat pergerakanku dengan berharap ia tidak bisa mengikutiku, semakin jauh aku berlari perlahan-lahan ia pudar dari penglihatanku. Aku terlalu fokus melarikan diri hingga secara tidak sadar aku menabrak sesuatu…
BRAK…
“Kamu baik-baik saja?” tanya sosok putih itu dengan nada yang sangat lembut.
Aku yang masih sempoyongan mengira diriku terlalu pusing untuk mencerna pertanyaan yang ia lontarkan
“Heumm…” sosok itu menelaah tubuh dan wajahku saat aku berusaha menyadarkan diri “Aneh, kamu seharusnya bukan ada disini” perkataannya membuatku semakin sulit untuk sadar.
Tiba-tiba tak jauh dari tempat kita ada sebuah portal yang terbuka, dari sana keluar sosok putih yang lain menghampiri…
“GAWAT! ADA SATU NYAWA HILANG!” ucap sosok putih yang baru datang itu dengan panik
“Nampaknya, ada yang akan kehilangan pekerjaannya” sosok putih pertama meledek “Coba hitung ulang lalu pergi ke ruang catatan, mungkin ada petunjuk bagaimana cara mempertahankan pekerjaan”.
“Aku tau bagaimana cara bekerja, terima kasih tapi berhenti dengan ucapan itu” sosok kedua itu pun pergi melalui portal yang sama.
Akhirnya aku mendapatkan kesadaran kembali dan langsung menanyakan kepada sosok putih didepanku
“Siapa kamu?” aku masih memperhatikan sekitaran–anehnya aku melihat banyak sosok putih kecil yang sedang berlari kesana dan kemari
“Kamu bisa panggil aku Fani, aku adalah penjaga alam pertama” jawabnya dengan nada sangat lembut
“A…aa…Alam pertama? Bagaimana maksudmu?” sebuah perkataan yang sangat aneh–Alam pertama?
“Ah…kamu pasti salah satu jiwa yang kebingungan. Bagaimana kalau aku tunjukkan kepadamu tentang alam ini? Ikuti aku” Jiwa kebingungan? Ia malah membuatku semakin bingung–aku mengikuti Fani mengelilingi alam pertama ini…
“Ini adalah “alam pertama, tempat semua jiwa-jiwa yang akan hidup diperlihatkan kehidupannya dari kelahiran hingga kematiannya” Kami berdua berjalan mengarungi sebuah padang rumput yang sangat luas dengan jiwa-jiwa kecil yang sedang berlarian, loncat kesana kemari.
“Disini para jiwa-jiwa juga diperlihatkan ribuan bahkan jutaan kemungkinan yang akan terjadi selama masa hidupnya, yang tidak akan berubah hanya kematiannya saja” Mendengar penjelasan Fani, muncul pertanyaan dalam diriku
“Tunggu, maksudmu seseorang bisa hidup dengan skenario yang berbeda-beda tetapi cara matinya akan selalu sama?” anehnya Fani tertawa mendengar pertanyaanku
“Hahaha… pikiranmu sangat manusiawi ya, selalu berpikir akhir dari hidupnya adalah kehendaknya. Jawabannya iya, mau bagaimana manusia itu menjalani hidupnya kematiannya selalu datang dengan cara yang sama” penjelasan Fani membuatku terdiam sejenak, artinya bagaimanapun kondisi saat aku hidup, semua akan berakhir dengan aku mengalami kecelakaan…
“Setelah kamu melihat semua skenario hidup, jiwa-jiwa ini akan memasuki ruangan agung untuk bersiap menjawab pertanyaan dari sang maha esa apakah jiwa tersebut siap untuk hidup. Jika siap maka sebelum jiwa tersebut turun ke bumi ia akan melewati proses penyucian–penghapusan memori tentang kehidupan yang sudah diperlihatkan sehingga jiwa yang hidup bisa memilih jutaan kemungkinan tadi di kehidupan dunia nanti” penjelasan itu semakin memperkuat pertanyaan ku…
“Jadi manusia punya berjuta-juta pilihan hidup tetapi hanya satu cara hidupnya berakhir? Jadi kita hidup bukan untuk mempersiapkan kematian melainkan kita sendiri yang seharusnya selalu siap untuk kematian?!” ujarku.
“Benar sekali, sang maha esa telah memberikan jiwa-jiwa kebebasan untuk hidup tetapi ia ingin jiwa ini kembali kepadanya dengan cara terbaik menurutnya” mendengar itu aku menjadi sangat dilema, artinya kehidupanku bisa jadi tanpa arti karena akan selalu berujung pada kematian. Masalahnya kematianku akan selalu datang ketika hidupku belum selesai.
Fani membawaku ke suatu portal berbentuk bundar yang sangat besar dan megah. Disitu aku melihat bumi, jiwa-jiwa kecil melompat terjun bebas untuk menuju bumi. Melihat ini aku terdorong untuk kembali lagi ke kehidupanku yang belum selesai. Aku harus keluar dari sini…
“Fani, lihat sepertinya temanmu datang lagi” aku menunjuk ke arah belakang yang kebetulan teman Fani datang lagi
“AKU TAU, JIWA YANG HILANG ITU BERNAMA HALIM ANTASARI, IA BERHASIL MELARIKAN DIRI DARI ALAM JEMBATAN” saat Fani dan temannya sedang terdistraksi, aku melompat dari portal untuk menuju bumi
WHOOOOOOOOO….AKU BEBAS… HERE WE COME!
Aku terjun menuju bumi untuk meraih kebebasan dan kembali ke kehidupanku. Rasanya lega bisa memilih untuk kembali hidup dan melihat jiwa-jiwa yang akan mendapatkan kehidupannya. Aku bahkan sempat berteriak…
BE FREE MY DEAR FRIEND BE FREE!
Saat aku melihat tubuhku didepan mata aku telah bersiap untuk hidup lagi, tetapi tiba-tiba…

Portal yang sama terbuka dan aku kembali terjatuh ke alam pertama…
“ARGHHHH… SIALAN! SIALAN! SIALAN! KENAPA AKU ADA DISINI LAGI?!” frustasi…aku tidak boleh disini, Pak Kuswanto menungguku, impianku hampir tercapai seharusnya aku masih hidup!
Fani dan temannya tiba-tiba muncul dihadapanku yang sedang meratapi nasib
“Hai, ternyata kamu disini dan ternyata namamu adalah Halim Antasari ya? Ternyata kamu yang dicari-cari oleh temanku Tani, kamu hampir saja membuat dia kehilangan pekerjaannya” Tani langsung membuka portal dan hendak menarikku untuk kembali ke alam jembatan, tetapi aku tidak bisa menerima itu dan memberontak… aku berteriak membabi buta
“HELL NO, KALIAN TIDAK PUNYA KEHENDAK ATAS KEHIDUPANKU, KALIAN BAHKAN TIDAK PERNAH MERASAKAN APA YANG AKU RASAKAN”
Tetapi Tani tetap teguh menarikku untuk kembali. Tepat sesaat aku memasuki portal, Fani menghentikan Tani…
“Tunggu…sepertinya Halim punya sesuatu yang belum selesai, biarkan dia aku tunjukkan hal yang belum ia selesaikan sebelum kau bawa” Tani sebenarnya sudah sangat kesal tetapi karena secara hirarki Fani lebih tinggi maka ia tidak bisa melawan
“Huft… jangan sampai kamu bikin aku dipecat dari sini” ucap Tani dengan pasrah tapi kesal.
Fani membawaku untuk berjalan bersamanya, entah mau kemana diriku dibawa aku hanya mengikuti karena rasanya Fani lebih bisa dipercaya daripada Tani.
“Kamu pasti adalah jiwa yang tiba-tiba sampai disini bukan? Sangat manusiawi jika merasa hidupmu belum selesai. Aku yakin kematianmu datang dengan tidak terduga” Fani berusaha menenangkanku karena melihat diriku yang semakin gelisah
“Aku tidak tau, hidupku baru saja terasa tidak membosankan seharusnya aku sekarang ada di kantor untuk kepindahan divisi ku, tapi ya aku disini” aku bukan pasrah apalagi menyerah, aku hanya berusaha mencerna semua kejadian ini.
Kami berdua tiba digerbang ruangan yang sangat megah bersama jiwa-jiwa kecil yang lain, Fani membawaku masuk kepada suatu ruangan berwarna merah dengan dua kursi, satu meja ditengah dan satu layar yang sangat besar.
“Oke mari kita lihat kehidupanmu sebelum meninggal” Fani menyalakan layar dan memutar momen tepat sebelum aku meninggal.
Senin, 31 Agustus 1987
Surabaya - 05.00 WIB
Kringg…kringg…kringg…kringg…
Suara alarm jam membangunkan Halim di jam 5 pagi.
Aku terbangun dengan pemandangan atap putih dan lampu kuning terang diatasku–tubuh ini rasanya tidak bisa bergerak, kaku, lelah. Ingin sekali rasanya menutup kembali kelopak mataku, ini bukan hari yang aku harapkan.
Beep…beep…beep… “424-031987660”
Suara pager menarik perhatianku dari meja.
Dari tempat tidur aku bangkit untuk melihat pager yang berada disamping meja, 424 artinya adalah hubungi kembali–dengan rasa malas yang masih menggerogoti tubuh aku berjalan keluar kamar untuk meraih telepon rumah. Aku memasukkan nomor yang terdapat di pager sembari menggerutu dalam hati “Pagi-pagi sudah menelpon, ngapain coba aku ini”.
Tuuttt…tuuttt…tuuttt…
Suara telpon menyambungkan.
“Selamat pagi Bapak Halim, terima Kasih sudah menghubungi kembali. Bapak Kuswanto menunggu di Line 8 ya pak” suara Lita, si penerima telepon kantor tempat aku bekerja, semua panggilan akan melalui Lita terlebih dahulu sebelum ke orang-orang yang ada di kantor.
Tuutt…
Suara angka 8 yang ditekan oleh Halim.
“Halo Pak Halim, bagaimana kabarnya?”. sebuah hal yang sangat jarang terjadi seorang Pak Kuswanto menanyakan kabar karyawannya, pasti ada sesuatu dibaliknya. “Alhamdulillah saya masih menghirup udara yang segar ini…bagaimana pak ada hal menarik apa yang harus saya liput hari ini?” balasku dengan senyum palsu di wajahku. “Saya mendapatkan kabar dari Ibu Lita, 4 hari lalu anda mengajukan diri untuk pindah divisi dari Jurnalis Investigasi menjadi Jurnalis Humanistik. Tolong datang ke ruangan saya hari ini pukul 08.40 ya” hal ini sangat aneh, tak biasanya Pak Kuswanto menghiraukan jurnalisnya untuk pindah divisi. “Baik bapak, saya akan segera ke kantor” telepon aku tutup dengan bayangan-bayangan hal yang akan terjadi nanti didalam pikiranku. Aku mengangkat langkah ku ke kamar mandi untuk mempersiapkan diri–aku terus memikirkan apa yang akan terjadi, aku sudah sangat tidak tahan berada di divisi investigasi karena impian ku sedari kuliah adalah menjadi jurnalis humanisme, disitulah aku seharusnya berada sejak dulu.
06.15 WIB - Menuju ke kantor
Ctek…ctek…ctek…brooomm…
Suara diesel khas mobil tempur Daihatsu Taft GL.
Cahaya terang pagi dari timur menembus kaca pintu kanan mobilku, hari ini aku terbangun dari tidurku tanpa motivasi. Telepon Bapak Kuswanto tadi sebenarnya membuatku merasa ada dorongan kembali untuk hidup, mimpi yang lama terpendam tiba-tiba menyala kembali.
Krek…krek…krekk…
Suara frekuensi radio yang berubah-ubah
~Kelana kota, Suara Surabaya, Seratus koma lima lima FM~ “Selamat pagi kawan para pendengar setia Radio Suara Surabaya 100,55FM saya Patrick Jonathans akan menemani pagi anda dari pukul 06.00 hingga 07.00 di Program Kelana Kota Suara Surabaya Radio”.
Suasana jalanan yang dipenuhi dengan suasana “tekanan kerja” tak ada orang tersenyum, semua orang merasa terburu-buru dan ingin cepat sampai tujuannya, dengan aku yang ditemani suara surabaya sembari memikirkan apa aku benar-benar akan pindah divisi membuat aku tenggelam didalam pikiran ku–rasanya mobilku berjalan dengan sendirinya.
CYIITTT…
Suara decitan ban mobilku menghindari pemotor.
Tiba-tiba saat aku hendak melewati sebuah persimpangan ada pengendara tidak bertanggung-jawab yang memotong jalanku secara mendadak. Memaksaku untuk membanting setir dan…
CYIITTT…BRAKK…VROOMMM….BYURR…
Mobilku menabrak pembatas jembatan dan terjatuh ke Sungai Jagir.
Aku sesak nafas…masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku benar-benar meninggal disaat semuanya sejalan dengan apa yang aku inginkan. Aku hanya bisa mematung melihat kenyataan yang baru saja diputarkan oleh Fani
“Sekarang apa? Apa yang bisa aku lakukan sekarang? Tidak ada, semuanya percuma” kesalku terhadap kehidupan yang tiada arti ini.
“Halim… Sang maha Esa membuat akhir hidupmu seperti ini telah mempertimbangkan yang terbaik untukmu” Fani mencoba untuk membuatku mengerti tentang konsep kehidupan
“Oh ya? Jadi yang terbaik untukku adalah hidup tanpa arti dan capaian, oke kalau itu yang dimau oleh Yang Esa” aku tidak bisa menutupi kekesalanku, seharusnya aku tidak mati hari ini
“Halim, aku akan menunjukkan kemungkinan lain dalam hidupmu, tetapi aku harus menekankan bahwa kematian seseorang akan berujung sama” Fani pun memperlihatkan skenario lain dalam hidupku.
#900110000 (ALTERNATE REALITY) - HALIM ANTASARI
Senin, 31 Agustus 1987
Surabaya - 05.00 WIB
Kringg…kringg…kringg…kringg…
Suara alarm jam membangunkan Halim di jam 5 pagi.
Aku terbangun dengan pemandangan atap putih dan lampu kuning terang diatasku–tubuh ini rasanya tidak bisa bergerak, kaku, lelah. Ingin sekali rasanya menutup kembali kelopak mataku, ini bukan hari yang aku harapkan.
Beep…beep…beep… “424-031987660”
Suara pager menarik perhatianku dari meja.
Dari tempat tidur aku bangkit untuk melihat pager yang berada disamping meja, 424 artinya adalah hubungi kembali–dengan rasa malas yang masih menggerogoti tubuh aku berjalan keluar kamar untuk meraih telepon rumah. Aku memasukkan nomor yang terdapat di pager sembari menggerutu dalam hati “Pagi-pagi sudah menelpon, ngapain coba aku ini”.
Tuuttt…tuuttt…tuuttt…
Suara telpon menyambungkan.
“Selamat pagi Bapak Halim, terima Kasih sudah menghubungi kembali. Bapak Kuswanto menunggu di Line 8 ya pak” suara Lita, si penerima telepon kantor tempat aku bekerja, semua panggilan akan melalui Lita terlebih dahulu sebelum ke orang-orang yang ada di kantor.
Tuutt…
Suara angka 8 yang ditekan oleh Halim.
“Halo Pak Halim, bagaimana kabarnya?”. sebuah hal yang sangat jarang terjadi seorang Pak Kuswanto menanyakan kabar karyawannya, pasti ada sesuatu dibaliknya. “Alhamdulillah saya masih menghirup udara yang segar ini…bagaimana pak ada hal menarik apa yang harus saya liput hari ini?” balasku dengan senyum palsu di wajahku. “Saya mendapatkan kabar dari Ibu Lita, 4 hari lalu anda mengajukan diri untuk pindah divisi dari Jurnalis Investigasi menjadi Jurnalis Humanistik. Tolong datang ke ruangan saya hari ini pukul 08.40 ya” hal ini sangat aneh, tak biasanya Pak Kuswanto menghiraukan jurnalisnya untuk pindah divisi. “Baik bapak, saya akan segera ke kantor” telepon aku tutup dengan bayangan-bayangan hal yang akan terjadi nanti didalam pikiranku. Aku mengangkat langkah ku ke kamar mandi untuk mempersiapkan diri–aku terus memikirkan apa yang akan terjadi, aku sudah sangat tidak tahan berada di divisi investigasi karena impian ku sedari kuliah adalah menjadi jurnalis humanisme, disitulah aku seharusnya berada sejak dulu.
06.15 WIB - Menuju ke kantor
Ctek…ctek…ctek…brooomm…
Suara diesel khas mobil tempur Daihatsu Taft GL.
Cahaya terang pagi dari timur menembus kaca pintu kanan mobilku, hari ini aku terbangun dari tidurku tanpa motivasi. Telepon Bapak Kuswanto tadi sebenarnya membuatku merasa ada dorongan kembali untuk hidup, mimpi yang lama terpendam tiba-tiba menyala kembali.
Krek…krek…krekk…
Suara frekuensi radio yang berubah-ubah
~Kelana kota, Suara Surabaya, Seratus koma lima lima FM~ “Selamat pagi kawan para pendengar setia Radio Suara Surabaya 100,55FM saya Patrick Jonathans akan menemani pagi anda dari pukul 06.00 hingga 07.00 di Program Kelana Kota Suara Surabaya Radio”.
Suasana jalanan yang dipenuhi dengan suasana “tekanan kerja” tak ada orang tersenyum, semua orang merasa terburu-buru dan ingin cepat sampai tujuannya, dengan aku yang ditemani suara surabaya sembari memikirkan apa aku benar-benar akan pindah divisi membuat aku tenggelam didalam pikiran ku–rasanya mobilku berjalan dengan sendirinya. Aku mulai membayangkan persiapan-persiapan yang harus aku lakukan untuk mempersiapkan kepindahan divisiku, aku akan membeli kamera baru setelah pulang kantor nanti.
07.30 - Sampai Kantor
Memasuki pintu masuk utama kantor aku disambut oleh Ibu Lita “Selamat pagi bapak Halim, pesan dari Bapak Kuswanto pak Halim diharapkan membersihkan meja dari Divisi Investigasi ke Divisi Humanistik ya pak” mendengar hal itu aku benar-benar senang, rasanya ingin sekali melompat-lompat tapi tentu tidak bisa aku lakukan karena akan dicap aneh. Aku bergegas ke meja lama ku untuk memindahkan barang-barang–ada rasa berat hati meninggalkan meja yang menemaniku dari 0 hingga aku berada dititik ini, tapi rasa berat hati itu tertutupi oleh kesenanganku dalam meraih mimpi. Aku menyambut meja baru dengan tatanan yang baru pula, karena sekarang aku kerja di humanistik maka aku bisa mengatur lampu sesuka hati, tidak perlu repot memikirkan kaca pembesar, dan yang paling penting alat tulisku tidak perlu sebanyak kawanan kambing.
Saat aku menata meja Pak Kuswanto memanggilku untuk keruangannya
“Bapak Halim, selamat bekerja di divisi baru yang saya harap akan sesuai dengan potensi diri anda” ucap Pak Kuswanto
“Terima Kasih pak, saya sangat senang dan berterima kasih atas kepercayaan bapak” aku benar-benar tidak bisa menutupi rasa senangku.
“Sebagai tugas pertama, saya mau Bapak Halim pergi ke daerah Sunan Ampel Surabaya untuk memotret kehidupan masyarakat yang tinggal dipesisir laut dan pinggiran kota” perintah Pak Kuswanto
“SIAP BAPAK” tanpa berlama-lama aku segera mengambil kamera dan kunci mobil untuk berangkat ke Sunan Ampel
08.50 - Perjalanan ke Sunan Ampel
Didalam mobil aku tidak bisa fokus menyetir karena terlalu sibuk mencari-cari informasi dan narasumber untuk liputan di majalah serta koran-koran yang sudah aku kumpulkan. Tangan kananku memegang setir sedangkan tangan kiriku sibuk membuat tanda-tanda penting tentang hal yang harus aku liput. Fokus ku terpecah dan…
CYIITTT…
Suara decitan ban mobilku menghindari pemotor.
Tiba-tiba saat aku hendak melewati sebuah persimpangan ada pengendara tidak bertanggung-jawab yang memotong jalanku secara mendadak. Memaksaku untuk membanting setir dan…
CYIITTT…BRAKK…VROOMMM….BYURR…
Mobilku menabrak pembatas jembatan dan terjatuh ke Kali Mas.
– – –
Aku terdiam…air mata tak terasa terjun dari mataku. Aku sangat tidak mempercayai hal ini, kepala ini rasanya ingin pecah
“Pasti ada kemungkinan aku bisa menikmati hidup baruku itu kan?” aku masih berharap masih ada harapan diluar sana yang mendukung hidup baruku
“Sayangnya tidak ada…semua kemungkinan hidup kamu akan meninggal saat dirimu merasa impianmu tercapai dan semua realitas kehidupan dirimu, kamu meninggal karena kecelakaan yang serupa” ucap Fani.
“Jadi…sudah tidak ada lagi yang bisa aku lakukan?” tanyaku.
“Tidak ada…tapi jika aku memberikan kesempatan terakhir untuk mengenang hidupmu di dunia, apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Fani yang terdengar seperti harapan
“Kalau boleh…setidaknya biarkan aku berpamitan dengan ibuku…” permintaan terakhirku dengan harapan Fani bisa mengabulkannya.
Fani tersenyum mendengar harapan terakhirku.
Senin, 31 Agustus 1987
Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo - 19.05
Beep…beep…beep…
Suara alat Patient Monitor.
Aku terbangun dengan penuh rasa sakit, punggungku seperti tertindih oleh gajah, kakiku seperti diinjak oleh bulldozer, dan aku melihat orang tuaku berada disampingku sembari mengucapkan doa-doa. Aku sangat ingin menyapa mereka tetapi mulut ini rasanya kaku seperti semen. Ibuku hanya mengatakan satu hal…
“Ibu akan selalu mendoakanmu nak” lalu mencium keningku.
Beeeeppp…
Detak jantung ku sudah tidak ada.
Aku kembali ke Alam Jembatan, cahaya yang sangat terang terlihat kembali. Fani dan Tani berada disampingku…
“Kamu akan baik-baik saja…selamat menjalani kehidupan baru” ucap Fani sambil merangkul bahuku
“Kamu sempat membuatku hampir saja dipecat, tapi setidaknya terima kasih juga telah kembali” ucap Tani yang sempat kesal kepadaku.
Tubuhku tertarik menuju cahaya terang itu…kali ini aku tidak kabur sama sekali, melainkan menerima kematianku.
HALIM ANTASARI (1953 - 1987)
END.
Dzakii As’at Rizki Kusuma



Comments