Superman Juga Butuh Didengar: Karena Tangguh Bukan Berarti Mati Rasa

"Laki-laki sejati tidak boleh menangis. Kamu harus kuat, dan tidak cengeng."
“Laki-laki kok lembek”
Surabaya, KOMA - Berapa banyak dari kita sebagai laki-laki yang menghabiskan masa kecil dengan kalimat konservatif itu berdengung di kepala? Sejak langkah pertama kita sebagai anak-anak, masyarakat telah membisikkan doktrin kaku bahwa maskulinitas diukur dari seberapa kedap seorang laki-laki terhadap rasa sakit. Kita dipaksa percaya bahwa menjadi lelaki sejati artinya kita harus memakai topeng besi yang tidak memiliki celah, tanpa kerapuhan, tanpa air mata, dan tanpa kebebasan untuk mengutarakan perasaan yang sebenarnya.
Dampaknya begitu pahit. Pada akhirnya, kita melahirkan generasi laki-laki yang emotionally unavailable, jiwa-jiwa yang asing dengan perasaan mereka sendiri.
Di kamar yang gelap, di balik kemudi mobil, atau di sudut-sudut sepi yang tak terlihat, banyak laki-laki menahan desakan sesak di dada sekuat tenaga mereka. Ego maskulin dipaksa berdiri tegak, sementara di dalam diri mereka, ada sesuatu yang sedang hancur lebur, sunyi untuk disuarakan, dan merasa tertahan untuk dikeluarkan.
Lalu kita bertanya pada nurani kita sendiri, Sampai kapan kita harus hidup dalam kepura-puraan yang menyiksa ini? Mengapa laki-laki tidak boleh menangis?
Ketika Empati dianggap "Banci"
Dampak dari pembungkaman emosi ini tidak berhenti pada diri mereka sendiri, melainkan menjalar ke cara mereka memandang orang lain. Ketika laki-laki dipaksa untuk mematikan radar emosinya, ia akan terbiasa memiliki rasa asing yang signifikan saat melihat orang lain menunjukkan kerentanan.
Tragisnya, lingkaran setan ini melahirkan aksi penghakiman kepada sesama pria. Saat melihat teman laki-laki mereka sendiri sedang hancur, menangis, atau sekadar ingin curhat, respons yang muncul bukannya rangkulan, melainkan cibiran bahkan desakan yang melawan perasaan. Menunjukkan kesedihan dianggap sebagai sesuatu yang "aneh", tidak jantan, atau bahkan dilabeli secara peyoratif sebagai tindakan yang "banci”.
Memang tidak adil jika kita menggeneralisasi bahwa pertemanan laki-laki selalu dangkal. Nyatanya, banyak pria yang sering terlibat dalam obrolan mendalam (deep talk) saat malam makin larut di kedai kopi. Namun, mari kita teliti lebih dalam: deep talk seperti apa yang dibicarakan? Laki-laki sangat mahir dan solid ketika membahas tentang visi masa depan, karier, politik, hingga strategi finansial. Mereka mahir dalam bertukar logika dan mencari solusi praktis.
“Yaudah sih bro, namanya juga hidup,” ujar mereka seolah tak mengerti bahwa hal terpenting bukanlah bagaimana mengajarkan orang untuk bertahan, melainkan bagaimana cara memberikan ruang aman untuk memahami, terluka, dan menyembuhkan diri tanpa perlu dihakimi.
Risiko Membayang dalam Kerentanan
Stigma bahwa laki-laki harus selalu tangguh bukanlah sekadar isu sosial fiktif, melainkan sebuah krisis kesehatan mental yang divalidasi oleh berbagai riset faktual.
Studi psikologi menunjukkan bahwa pria memiliki kecenderungan lebih tinggi mengalami alexithymia, sebuah kondisi psikologis di mana seseorang secara fungsional tidak mampu mengidentifikasi, memproses, dan mengungkapkan emosi yang mereka rasakan karena terlalu lama memendamnya.
Ketika hal ini dibiarkan, dampak yang ditimbulkan bukan hanya sekadar pikiran kalut semata, namun risiko-risiko berbahaya lainnya juga bisa datang sebagai petaka, bunuh diri misalnya.
Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), angka kematian akibat bunuh diri pada laki-laki secara global justru jauh lebih tinggi (hampir 2 hingga draf 3 kali lipat) dibandingkan perempuan. Salah satu pemicu draf utamanya adalah keengganan pria mencari bantuan profesional atau sekadar bercerita karena takut dicap lemah oleh lingkungannya.
Saat kita memaksa laki-laki menelan rasa dukanya secara mentah, sama artinya kita sedang menanam bom waktu. Rasa frustasi yang terperangkap itu lambat laun berubah menjadi amarah yang meledak-ledak, depresi, atau kehampaan yang membunuh jiwa secara perlahan. Tak heran banyak sikap laki-laki yang terkesan arogan, bodo amat, dan agresif untuk perempuan yang menginginkan hubungan hangat dan terikat secara emosional.
Membebaskan Rasa Kemanusiaan
Air mata tidak pernah memilih gender ketika ia diciptakan. Ia adalah bagian murni dari tubuh manusia, katup penyelamat yang dianugerahkan Tuhan untuk meredakan badai di dalam kepala. Ketika masyarakat melarang seorang laki-laki menangis, kita sebenarnya sedang merampas hak hidupnya untuk menjadi manusia. Kita menuntut mereka menjadi robot yang bernyawa dan pribadi yang dibungkam oleh glorifikasi sampah.
Tangguh bukan berarti mati rasa. Justru, dibutuhkan keberanian luar biasa untuk berani jujur dan berkata, "Aku sedang terluka, dan aku sedang tidak baik-baik saja." Dan dibutuhkan rasa kedewasaan yang jauh lebih besar untuk mendengarkan teman laki-laki kita bercerita tanpa perlu mempertanyakan maskulinitasnya.
Membongkar stigma usang ini adalah panggilan kemanusiaan untuk kita bersama.
Untuk para laki-laki, belajarlah untuk merasa nyaman mengekspresikan perasaanmu. Runtuhkan dinding pembungkaman emosional yang selama ini mengurungmu dalam kesunyian yang dingin. Ketika orang di sekitarmu membuka diri untuk bercerita, tolong dengarkan. Menangis dan berempati tidak akan pernah mengikis harga dirimu, justru itu adalah bukti bahwa kamu memiliki empati yang hidup. Kamu boleh lelah, kamu boleh rentan, dan kamu sangat boleh menangis.
Dan untuk para perempuan, jadilah rumah tempat mereka pulang. Bantu laki-laki di sekitarmu, entah itu ayahmu, pasanganmu, saudaramu, atau temanmu untuk memahami bahwa menangis di depanmu adalah hal yang sepenuhnya manusiawi dan tidak salah.
Memutus rantai kesunyian ini adalah langkah awal untuk memanusiakan manusia secara utuh. Laki-laki sejati bukanlah mereka yang berdada bidang namun berhati batu. Laki-laki sejati adalah mereka yang berani jujur pada nurani, merangkul lukanya, saling menguatkan sesama kawannya, dan tidak malu menjadi manusia sepenuhnya.
Penulis: Nur Ibad Khasani
Editor: Sinta Lidya Meilany



Comments