Everyone is a Hypocrite in a Way, And That is Somewhat Okay

Di tengah gempuran isu rasisme, ketimpangan, dan kekerasan yang tak kunjung usai, aktivisme digital menjadi ruang bagi banyak orang untuk bersuara. Namun, setiap kali seseorang menyuarakan kritik sosial, muncul pertanyaan: bukankah ia sendiri masih terlibat, sadar atau tidak, dalam persoalan yang ia kecam? Pertanyaan ini menyingkap dilema mendasar dalam aktivisme masa kini. Sejauh mana ketidaksempurnaan moral seseorang boleh membungkam suaranya?
Surabaya, KOMA - Dunia ini dipenuhi berbagai persoalan yang sulit diabaikan, mulai dari rasisme, misogini, klasisme, hingga anak-anak yang sampai detik ini masih kehilangan nyawa setiap hari. Ada 1% kelompok yang memiliki kekayaan dan kekuasaan dalam jumlah tak terhitung, sementara banyak orang masih harus berjuang memenuhi kebutuhan dasarnya. Indonesia pun tidak terlepas dari persoalan serupa. Pemerataan pendidikan dan pembangunan masih menjadi tantangan, sementara sejumlah kebijakan dan prioritas pemerintah juga terus dipertanyakan.
Sebagai bagian masyarakat, kita tentu perlu melek terhadap persoalan-persoalan tersebut. Sikap apatis tidak akan menyelesaikan masalah, terutama bagi mahasiswa yang memiliki ruang untuk menyuarakan keresahan dan terlibat dalam berbagai isu sosial. Alasan seperti “aku bukan siapa-siapa” atau “aku tidak punya pengaruh apa-apa” seharusnya tidak menjadi alasan untuk diam. Menyuarakan pendapat, termasuk melalui internet, tetap memiliki arti. Setidaknya, kita menunjukkan bahwa persoalan tersebut tidak luput dari perhatian. Namun, ketika semakin banyak orang mulai bersuara secara online, muncul pula pertanyaan: sejauh mana aktivisme tersebut benar-benar tulus, dan kapan ia berubah menjadi performatif?
Kritik terhadap performative activism sebenarnya sah-sah saja. Aktivisme, terutama yang berlangsung di ruang digital, memang tidak selalu terbebas dari kontradiksi. Misalnya, seseorang mengajak orang lain memboikot sebuah produk karena perusahaan yang memproduksinya terlibat atau mendukung genosida. Namun, orang lain merespons dengan menunjukkan bahwa ponsel yang ia gunakan, aplikasi yang ia pakai, atau produk lain dalam kehidupannya juga memiliki keterkaitan dengan persoalan serupa. Kritik semacam ini bisa menjadi relevan jika tujuannya adalah mengajak seseorang melihat persoalan secara lebih menyeluruh.
Masalah muncul ketika kritik tersebut berujung pada upaya mencari celah untuk mendiskreditkan orang yang sedang bersuara. Seolah-olah, karena seseorang masih menggunakan produk tertentu, ia tidak lagi memiliki hak untuk membicarakan sebuah isu. Karena seseorang belum mampu menerapkan nilai yang ia perjuangkan secara sempurna dalam seluruh aspek kehidupannya, apa pun yang dikatakannya dianggap tidak berarti. Padahal, menunjukkan kontradiksi seseorang tidak selalu membatalkan persoalan yang sedang ia bicarakan.
Aktivisme memang bisa dikritik, terutama ketika tujuannya bergeser dari memperjuangkan isu menjadi perlombaan untuk menunjukkan siapa yang paling bermoral. Namun, ada perbedaan antara kritik yang diberikan untuk membuat gerakan menjadi lebih bertanggung jawab dan kritik yang sekadar digunakan untuk merasa lebih superior dibandingkan orang lain. Kalau seluruh energi kita habiskan untuk mengkritik bagaimana seseorang melawan, lalu kapan kita benar-benar ikut melawan?
Manusia memang tidak sempurna. Banyak yang beranggapan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk hipokrit. Menurut Oxford Learner’s Dictionary, hipokrit adalah seseorang yang mengaku memiliki standar moral, keyakinan, atau kebajikan tertentu, tetapi perilakunya justru bertentangan dengan apa yang ia katakan. Dalam pengertian ini, manusia memang sangat mungkin menjadi hipokrit. Kita hampir tidak mungkin menjalani hidup dengan konsistensi moral yang sempurna. Kita bisa membenci sesuatu, tetapi tetap menggunakannya karena belum memiliki alternatif. Kita bisa meyakini bahwa suatu perilaku itu salah, tetapi dalam situasi tertentu tetap melakukannya. Kita bisa ingin menjadi orang baik, tetapi tetap menyakiti orang lain.
Kontradiksi semacam itu tidak selalu berarti bahwa nilai yang kita perjuangkan menjadi tidak valid. Kita tidak perlu menunggu sampai menjadi manusia yang sepenuhnya bersih dari kontradiksi untuk peduli terhadap sebuah persoalan. Menjadi hipokrit dalam beberapa aspek mungkin memang tidak terhindarkan. Yang lebih penting adalah apa yang kita lakukan ketika menyadarinya. Apakah kita menggunakannya sebagai alasan untuk berhenti peduli atau menjadikannya kesempatan untuk terus memperbaiki diri dan tetap mengambil bagian dalam persoalan yang kita anggap penting?
Mungkin kita memang tidak bisa selalu konsisten. Namun, ketidaksempurnaan tersebut seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling membungkam. Kalau kita hanya memperbolehkan orang yang sepenuhnya sempurna dan memahami segalanya untuk bersuara, pada akhirnya tidak akan ada seorang pun yang berbicara.
Penulis: Diva Rahma Anjani
Editor: Keysa Regina Velaria
Referensi:
hypocrite noun - Definition, pictures, pronunciation and usage notes | Oxford Advanced Learner’s Dictionary at OxfordLearnersDictionaries.com. (2024). Oxfordlearnersdictionaries.Com. https://www.oxfordlearnersdictionaries.com/definition/english/hypocrite



Comments