top of page

Ketika Organisasi Mulai Menggeser Prioritas Perkuliahan

Oct 18
3 min read
 Ilustrasi seseorang yang sibuk. Sumber: iStockphoto
 Ilustrasi seseorang yang sibuk. Sumber: iStockphoto
Menjadi mahasiswa yang aktif berorganisasi sering kali dianggap sebagai bentuk keberhasilan dalam memanfaatkan masa perkuliahan. Berbagai rapat, kepanitiaan, dan program kerja menjadi bagian dari keseharian yang seolah tidak boleh dilewatkan. Namun, di balik padatnya jadwal dan banyaknya tanggung jawab, tidak sedikit mahasiswa justru mengorbankan waktu istirahat bahkan kebutuhan pribadinya. Ketika kesibukan terus dibanggakan sebagai tanda produktivitas, muncul pertanyaan: apakah organisasi masih menjadi ruang untuk mengembangkan diri, atau justru membuat mahasiswa perlahan kehilangan waktu untuk dirinya sendiri?

Surabaya, KOMA - Masa perkuliahan bukan hanya soal datang ke kelas, mengerjakan tugas, dan mendapatkan nilai yang baik. Banyak mahasiswa memilih mengikuti organisasi untuk mencari pengalaman, menambah relasi, sekaligus mengembangkan kemampuan yang mungkin tidak didapatkan selama di ruang kelas. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Namun, bagaimana jika kegiatan yang awalnya menjadi tempat untuk berkembang justru membuat mahasiswa kewalahan membagi waktu?


Aktif berorganisasi seolah sudah menjadi tuntutan tersendiri. Terlebih lagi, pengalaman organisasi sering dianggap sebagai nilai tambah ketika memasuki dunia kerja. Tidak heran jika banyak mahasiswa berlomba-lomba mengikuti organisasi, kepanitiaan, hingga berbagai kegiatan lainnya. Semakin banyak kegiatan yang diikuti, semakin produktif pula seseorang dianggap. Kenyataannya, memiliki jadwal yang padat belum tentu berarti seseorang benar-benar berkembang.


Coba perhatikan keseharian mahasiswa yang aktif berorganisasi. Pagi hingga sore dihabiskan untuk mengikuti perkuliahan, kemudian dilanjutkan dengan rapat atau mengurus program kerja hingga malam hari. Sesampainya di kos, tugas kuliah masih menumpuk dan harus diselesaikan. Belum lagi mengurus kegiatan organisasi yang mendadak atau pekerjaan dengan tenggat waktu yang berdekatan. Akhirnya, waktu tidur dan istirahat menjadi hal yang paling mudah dikorbankan.


Sayangnya, kondisi seperti ini sering dimaklumi. Kalimat seperti “Namanya juga anak organisasi” atau “Kalau mau berkembang ya harus siap capek” seolah menjadi pembenaran bahwa mahasiswa harus terbiasa dengan jadwal yang padat. Memang benar bahwa setiap tanggung jawab membutuhkan usaha. Namun, bukan berarti mahasiswa harus terus mengorbankan waktu pribadinya hanya untuk membuktikan bahwa dirinya mampu berkomitmen.


Di sisi lain, persoalan ini juga berkaitan dengan hustle culture, ketika seseorang merasa harus terus sibuk agar dianggap produktif. Melihat teman sebaya aktif di berbagai organisasi, mengikuti lomba, atau menjalani magang terkadang membuat mahasiswa merasa tertinggal. Akibatnya, muncul keinginan untuk mengambil lebih banyak kegiatan, meskipun sebenarnya waktu dan tenaga yang dimiliki sudah terbatas.


Menurut saya, persoalan ini bukan hanya tentang mahasiswa yang kurang pandai membagi waktu. Organisasi juga perlu meninjau kembali tuntutan yang diberikan kepada anggotanya. Tidak jarang, rapat berlangsung hingga larut malam, pesan pekerjaan harus segera dibalas, dan berbagai tugas organisasi diberikan dengan tenggat waktu yang cukup singkat. Sementara itu, setiap anggota juga memiliki tanggung jawab akademik dan kehidupan pribadi yang tidak bisa terus-menerus dikesampingkan.


Bukankah tujuan utama kita masuk perguruan tinggi adalah belajar? Namun, ketika kegiatan organisasi mulai mengganggu waktu belajar, pengerjaan tugas, bahkan persiapan ujian, rasanya wajar jika muncul pertanyaan, “Sebenarnya kita berkuliah untuk belajar atau demi organisasi?”


Pertanyaan tersebut bukan berarti organisasi tidak penting. Justru, organisasi seharusnya menjadi tempat mahasiswa belajar hal baru tanpa harus mengorbankan kewajiban utamanya. Organisasi yang baik bukan hanya mampu menjalankan program kerja dengan sukses, tetapi juga memahami kondisi anggotanya. Pasalnya, keberhasilan sebuah kegiatan tentu tidak seharusnya dibayar dengan kelelahan orang-orang yang bekerja di baliknya.


Mahasiswa memang harus bertanggung jawab terhadap pilihan dan komitmen yang telah diambil. Namun, tanggung jawab itu juga perlu diimbangi dengan budaya organisasi yang lebih menghargai waktu. Rapat tidak harus selalu berlangsung hingga malam, pekerjaan tidak harus selalu diberikan secara mendadak, dan anggota tidak seharusnya merasa bersalah ketika memiliki urusan akademik atau membutuhkan waktu untuk beristirahat.


Pada akhirnya, aktif berorganisasi memang bisa memberikan banyak pengalaman berharga. Namun, hal itu bukan berarti seluruh waktu selama masa perkuliahan harus dihabiskan untuk organisasi. Mahasiswa juga berhak menikmati waktu bersama keluarga, berkumpul dengan teman, menjalankan hobi, atau sekadar beristirahat tanpa memikirkan pekerjaan yang belum selesai.


Jangan sampai kita terlalu sibuk menjalankan berbagai program kerja, dan justru melupakan tujuan awal masuk perguruan tinggi. Organisasi seharusnya membantu mahasiswa berkembang, bukan membuat mereka harus memilih antara tanggung jawab akademik dan organisasi. Sebab, apa gunanya memiliki banyak pengalaman organisasi jika untuk menjalaninya kita harus terus mengorbankan waktu bagi diri sendiri?


Penulis: Ayodya Melodi Revannya

Editor: Flora Hensylia Deanova


Referensi

Indratno, G. P., Dewi, R., & Martono, N. (2025). Perilaku hustle culture pengurus organisasi mahasiswa di FISIP Universitas Jenderal Soedirman. Innovative: Journal of Social Science Research, 5(2), 2667–2677. https://j-innovative.org/index.php/Innovative/article/view/17122 


Samosir, G. S. V., Nuraini, P., & Supriyono, S. (2025). Ambisi tanpa batas, hustle culture justru mengabaikan hak mahasiswa atas kehidupan yang seimbang. Jurnal Pendidikan Tambusai, 9(2), 14884–14890. https://jptam.org/index.php/jptam/article/view/27794 


Comments


bottom of page