Perempuan Mengejar, Laki-laki Melembut: Kesetaraan atau Tukar Peran?

Perempuan mengejar dikata murah, laki-laki bermanja dihina tak sesuai fitrah. Sebenarnya, letak masalah di mana? Karena kesetaraan ada agar tetap seimbang, bukan dijadikan acuan yang memperumit kehidupan.
Meski dunia sudah berbeda dari zaman purba, batas kesetaraan laki-laki dan perempuan selalu bias di mata. Kesetaraan seringkali dipelintir menjadi alat ukur ego atas standar ganda yang tak kunjung mati. Cara jatuh cinta diperumit hanya karena peran gender yang mulai berubah tak sesuai norma. Perempuan yang gerak duluan, berusaha stand out agar di-notice gebetan, sampai mengejar dengan dalih cinta harus diperjuangkan, malah dikomentar seperti barang diskonan. Sementara laki-laki dicap kehilangan sisi maskulin jika mengeluh atau lebih lembut.
Stigma kuno ini harus diperbarui, bukan untuk melawan tradisi atau norma, tetapi agar tidak menjadi belenggu sosial. Sama seperti dogma masa lalu tentang kodrat perempuan berada di dapur, perlu adanya regenarasi nilai pada hak perempuan dalam menyampaikan perasaan, juga ekspresi laki-laki untuk lebih manusiawi. Meskipun terdengar sepele, kritik tajam hanya karena berani DM laki-laki duluan justru menunjukkan posisi perempuan yang belum aman.
Sayangnya, sejak awal sudah terlalu banyak narasi yang menempatkan perempuan di posisi harus “menunggu”. Dalam hubungan romansa, perempuan yang inisiatif kerap dianggap agresif, sementara laki-laki dianggap lemah saat menjadi pihak penerima. Masyarakat selalu melakukan evaluasi pada apa yang mereka anggap ganjil dan tidak sejalan dengan tradisi budaya.
Meski gerakan feminisme dan konsep kesetaraan gender sudah populer, implementasinya sering terpental oleh standar ganda yang keras kepala. Pembatasan terhadap kebebasan berekspresi akibat standar lama selalu terjadi, mengulang siklus serupa dan berakhir antara tetap terbelenggu atau mencari perspektif baru. Pada akhirnya, masyarakat kembali menjadi hakim tanpa gelar.
Istilah “tukar peran” sebenarnya ilusi yang tercipta dari kecemasan budaya. Dalam kenyataannya, peran laki-laki dan perempuan tidak akan bisa ditukar atau terbalik. Masyarakat kadangkala secara ekstrem membagi karakter manusia hanya pada feminim dan maskulin, padahal sifat manusia tidak bisa dikotakkan secara kaku. Perempuan yang berani mengejar cintanya bukan berarti agresif atau tak tahu malu, begitu juga ketika laki-laki yang menjadi lembut tidak otomatis kehilangan jati diri.
Perubahan yang terjadi ini adalah cermin sosial dari variasi laki-laki dan perempuan berekspresi, bukan peran yang tertukar secara sosial. Masifnya wawasan tentang kesetaraan membuat generasi sekarang lebih berani menentang nilai tradisi yang dianggap terlalu membatasi. Namun, jika seseorang terlalu memaksa, menuntut, atau bergantung berlebihan itu bukan lagi kesetaraan, tapi kurangnya kendali diri. Di mana itu bisa terjadi pada siapapun, bukan hanya salah satu gender.
Maka, sah-sah saja jika perempuan ingin mengejar, menyatakan perasaan, atau berjuang atas cintanya. Perempuan berhak atas dirinya, juga perasaaan yang ia emban. Mengukur nilai perempuan dengan pandangan subjektif terdengar tidak logis dan menyudutkan. Lagi pula, dengan parameter apakah seseorang bisa mengukur nilai orang lain? Pada akhirnya, wanita “berkelas” tak berarti selalu menunggu. Perempuan yang berani maju dan tetap lapang meski ditolak, justru jadi gambaran perempuan elegan yang berani jujur tanpa kehilangan harga diri. Karena mereka tahu kesetaraan tidak berarti kehilangan kendali.
Penjara stigma sosial juga menjerat kaum laki-laki. Ketika mereka tanpa sadar melembut, jujur mengeluh tentang rasa lelah, atau merengek ingin diperhatikan pula, justru yang didapat ialah tudingan kehilangan maskulinitas yang dianggap sebagai roh laki-laki. Padahal kebutuhan emosional tidak mengenal jenis kelamin. Laki-laki yang ingin diperlakukan hangat bukan ancaman gender. Selama tidak berlebihan dan memberi feedback yang seimbang, maka laki-laki hanyalah manusia yang belajar untuk utuh. Tidak ada pembalikan peran, mereka hanya semakin sadar akan haknya untuk menjadi manusiawi, bukan patung gagah yang tak boleh retak.
Pada akhirnya, kita terlalu ribut pada persepsi kemunduran budaya ataupun peran yang tertukar. Berhenti menghakimi dan menilai siapa yang seharusnya mengejar atau menunggu. Berhenti menetapkan sikap kaku pada gender tertentu, baik itu kehidupan atau hubungan romantis, yang diperlukan adalah kesetaraan yang seimbang. Menjadi tidak sesuai “stigma” yang ada bukanlah sebuah masalah, asalkan tidak menerobos etika dan merampas kebebasan pihak lain hanya karena egois ingin diterima. Jati diri tidak akan hilang selama kejujuran itu lahir dari kesadaran, bukan gengsi ataupun arogan.
Penulis: Amanda Amelia
Editor: Mochammad Narendra Putra Nazar



Comments