Perempuan Belum Pernah Merdeka Sekali Pun

Perempuan memang sudah bisa mengecap pendidikan, juga menduduki jabatan tinggi di perusahaan, punya hak pilih sendiri saat pemilihan umum, dan dapat mengajukan perceraian di pengadilan.Then, apakah artinya kesetaraan gender telah tercapai dan perempuan sudah sejahtera?
I would go so far as to say that women have never once been truly liberated!
Artikel ini mengandung konten kekerasan seksual yang berpotensi memicu trauma bagi sebagian pembaca.
Surabaya, KOMA - Di tengah hiruk-pikuk narasi modernitas yang tampak inklusif, namun di lapangan justru menunjukkan bahwa kebebasan perempuan masih semu. Dari hak-hak dasarnya sebagai manusia utuh yang terus dikebiri hingga bias-bias subtil dalam interaksi sehari-hari yang masih dianggap angin lalu dan hilang begitu saja. Such as …
Perempuan adalah Korban Pertama dalam Konflik Politik
“Wait, what? Bukannya semua orang … i mean, no matter what gender, bakal jadi korban saat ada konflik?”
Uhm, no, that’s not quite what I meant.
Dalam situasi seperti krisis, bencana, atau konflik lainnya, semua orang akan menderita. Tapi, perempuan masih harus menanggung kerentanan berlapis dan berangsur-angsur.
Ketika perang pecah, perempuan menjadi kelompok yang paling pertama kehilangan ruang aman. Mereka dipaksa hidup berdampingan dengan potensi kekerasan seksual kapan saja tanpa pandang bulu. Data milik PBB menunjukkan kekerasan seksual di wilayah konflik mengalami lonjakan, dari 4.600 laporan pada 2024 menjadi lebih dari 9.300 kasus di tahun 2025.
Sekarang, coba kita lihat kejadian yang sangat dekat dengan kita, di Indonesia. Aceh Tamiang sempat dilanda banjir pada Desember 2025 lalu. Di tengah huru-haranya, terdengar kabar seorang mahasiswi asal Kota Langsa menjadi korban pemerkosaan oleh sopir truk. Padahal, niatnya saat itu hanya menumpang mobil untuk melewati kepungan banjir. Can you imagine? Bahkan dalam situasi bencana pun, perempuan dipaksa membagi fokusnya antara bertahan hidup sekaligus menjaga diri dari predator seksual.
Pada Januari 2026, tepatnya di Papua, perempuan berusia 48 tahun dari Kampung Meningimte Beoga Timur dihadang 12 anggota TNI ketika ia sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Ia kemudian diperkosa secara bergilir sembari ditodong senjata agar tidak berani melawan. Sejarah panjang akan militerisasi di Papua sungguh menciptakan relasi kuasa yang timpang. Imbasnya, intimidasi terhadap perempuan sudah mengakar sejak lama dan tentunya luput dari perhatian pemerintah.
Kemudian, menolak lupa pasal keparat politisasi krisis yang tercatat dalam sejarah bangsa ini, yaitu Tragedi Pemerkosaan Massal 1998. Peristiwa yang dipicu oleh krisis politik ini tersusun secara runtut dengan banyak cara. Misalnya, sebelum kerusuhan terjadi, orang-orang dengan ciri fisik rambut cepak bersepatu bot menyebarkan pesan provokatif kepada para pria dengan ujaran, “Sebentar lagi kamu akan bisa menyentuh perempuan-perempuan yang selama ini tidak bisa kamu sentuh.” Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) memaparkan bahwa terdata 103 korban pemerkosaan, 25 korban pemerkosaan dengan penganiayaan, 14 korban pelecehan seksual, dan 9 korban pemerkosaan dengan pembakaran pada periode 13 Mei hingga 3 Juli 1998 di Jakarta dan sekitarnya.
Dari sini, kita bisa melihat pola yang terus berulang pada peristiwa-peristiwa di atas, bahwa dalam pusaran konflik bersenjata maupun transisi politik, tubuh dan seksualitas perempuan masih dieksploitasi sebagai instrumen untuk menyebarkan teror demi kepuasan Para Bajingan. Hal ini terbukti sebagai strategi yang dilakukan secara sadar di mana perempuan direduksi menjadi alat propaganda dan penindasan. Ketika hukum melemah dan stabilitas politik menurun, kerentanan perempuan akan meningkat berlipat ganda karena mereka dimanfaatkan sebagai penyebar ketakutan massal dan melumpuhkan perlawanan.
Dampak dari kejadian seperti ini bukan hanya meninggalkan luka personal bagi korban yang terdampak, efek traumatis itu akan membekas dan turun ke generasi selanjutnya bahkan setelah isu atau konfliknya sudah mereda. Yah, begitulah, everything is political when you’re a woman. Where is the justice? Who knows …
Oh ya, di situasi serupa, mereka juga menjadi korban hilangnya fasilitas sanitasi yang layak. Menstruasi pada perempuan tentunya tidak serta-merta berhenti saat bencana dan konflik terjadi. Namun, kondisi di mana kebutuhan air bersih dan pembalut tidak tersedia dengan baik membuat mereka rawan terkena infeksi saluran kemih. Ibu hamil dan yang menyusui juga harus menghadapi risiko komplikasi persalinan dan kesehatan lainnya akibat minimnya asupan nutrisi yang layak.
Menstruasi Dianggap Mematahkan Kerasionalan Perempuan
Dalam banyak waktu, perempuan kerap disebut sebagai makhluk “emosional”. Keputusannya dianggap terlalu menggunakan perasaan dibanding logika. Pada akhirnya, hal ini menjadi glass ceiling, yakni sekat pembatas tak kasatmata yang menghalangi perempuan untuk naik ke posisi puncak di tempat kerja. Makanya, jabatan tinggi seperti pemimpin dan manajer sebenarnya masih banyak didominasi oleh laki-laki. Keterwakilan perempuan di bangku parlemen bahkan tak jarang hanya sekadar formalitas.
Indonesia memang memiliki Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 yang mewajibkan partai politik untuk mengajukan jatah setidaknya 30% perempuan dalam pencalonan yang diserahkan. Namun nyatanya, keterwakilan perempuan di DPR RI setelah pemilihan legislatif 2024 menunjukkan angka 21,9%. Alias, hanya ada 127 perempuan dari keseluruhan 580 anggota DPR yang dilantik.
Anyway, women get called emotional on a regular day, so don’t even get me started on when they’re on their period. Ungkapan semacam “Kamu bentar lagi mens ya?” ketika perempuan menunjukkan emosinya adalah contoh nyata bagaimana hormon biologis perempuan telah dipolitisasi untuk melanggengkan dominasi maskulin. Pernyataan seperti ini memang paling efektif digunakan untuk membungkam argumen perempuan.
Ketika laki-laki menunjukkan amarah atau ketegasan di ruang publik, ia akan dilabeli sebagai sosok yang tegas, berwibawa, atau berjiwa kepemimpinan. Sebaliknya, ketika perempuan menunjukkan validasi emosi yang sama, pokok argumennya direduksi menjadi sekadar siklus bulanan.
Like, dude, do you think women’s brain dicopot kah pas mens?
Secara biologis, naik-turunnya estrogen dan progesteron dalam siklus haid memang memengaruhi neurotransmiter di otak seperti serotonin sebagai hormon pengatur suasana hati. Namun, kemampuan berpikir, mulai dari attention, creativity, executive function, intelligence, motor function, memory, spatial ability, dan verbal ability tidak terpengaruh (Jang et al., 2025). Jadi, fluktuasi emosional yang bersifat subjektif selama siklus menstruasi tidak serta-merta mengindikasikan adanya penurunan fungsi kognitif pada perempuan.
“Like a girl” is Still Used as an Insult
“Mulutnya udah kayak cewek”, “Ya ampun kayak ibu-ibu”, “Skill game lo kayak cewek”, “Betina”, “Mbak”, “Janda”, dan masih banyak lagi, adalah bukti bahwa penyebutan yang melekat pada perempuan sengaja dipelihara menjadi sesuatu yang berkonotasi negatif. Yes, ini adalah isu yang masih dianggap angin lalu, in this 2026 society, karena dalam percakapan sehari-hari rasanya masih lancar sekali orang-orang mengaplikasikan makna destruktif itu untuk perempuan.
Kalau diperhatiin, sejak kecil memang kita didoktrin bahwa menjadi perempuan itu hal yang memalukan. Suka warna merah muda, pakai rok, atau bermain boneka adalah sesuatu yang tidak terlalu keren dibanding anak-anak lain yang gemar main bola di lapangan, mengoleksi robot, menyukai warna gelap, dan lainnya. Dampak hal-hal semacam ini akan terasa lebih berat saat menginjak remaja, yakni ketika masa pencarian jati diri. Para perempuan berusia 13 tahun itu akan berlomba-lomba menjadi less feminine dan more masculine. Ada kepanikan massal untuk buru-buru membuang segala atribut perempuan di dalam diri. Soalnya, perempuan digaungkan sebagai individu yang menye-menye, lemah, gak kompeten, lebay, penakut, dan kata sifat rendahan lainnya.
Pada akhirnya, terjadi internalized misogyny, di mana perempuan juga ikut menelan standar seksis itu dan memakainya untuk menghakimi perempuan lain, atau bahkan dirinya sendiri. Di lingkungan yang patriarkis, pemikiran ini memang tampak seperti jalan yang bisa dipakai untuk menyelamatkan diri sendiri.
ARGHHH I actually have a lot of things to say, tapi karena ada mata kuliah kesayangan kita semua, Riskom ;), I’ll stop it here. Intinya, menjadi perempuan, menurut aku sendiri, is such a blessings. I can do so many fun and cute things while being a woman. Tapi, perjalanan tentang mencapai kemerdekaan bagi perempuan masih sangat jauh, ada yang mengalami progress, ada yang regress. We still have a long way to go :]
Penulis: Claudya Liana Morizza
Editor: Sinta Lidya
Referensi
Admin. (2025, December 31). Keterwakilan Perempuan dalam Politik: Formalitas Hukum dan Hambatan Kultural. Prisma Kartini Surabaya. https://prisma.surabaya.go.id/keterwakilan-perempuan-dalam-politik-formalitas-hukum-dan-hambatan-kultural/
BBC News Indonesia. (2026, May 13). Kerusuhan Mei 1998: Menyelisik laporan pemerkosaan massal – “Apa granat masih kurang?”. BBC News Indonesia. https://www.bbc.com/indonesia/articles/clyp17w4wwlo
Jang, D., Zhang, J., & Elfenbein, H. A. (2025). Menstrual cycle effects on cognitive performance: A meta-analysis. PLoS One, 20(3), e0318576.
Sariyem, Bernadette. (2026, January 26). Seorang Ibu di Beoga Diduga Menjadi Korban Kekerasan Seksual Oknum Aparat. Suara Papua. https://suarapapua.com/2026/01/26/seorang-ibu-di-beoga-diduga-menjadi-korban-kekerasan-seksual-oknum-aparat/
Setiawan, Rahma Nurliana. (2026, March 16). Perang dan Tubuh Perempuan: Mengapa Perempuan Menjadi Korban Terbesar dalam Konflik Bersenjata. Alchemistgroup.co. https://alchemistgroup.co/article/perempuan-korban-konflik-bersenjata
Makuba, Nesta. (2024, March 13). Suara Perempuan Adat Papua: Kami Masih Mengalami Kekerasan dan Diskriminasi. Aman.or.id. https://aman.or.id/news/read/Suara%20Perempuan%20Adat%20Papua:%20Kami%20Masih%20Mengalami%20Kekerasan%20dan%20Diskriminasi
UN Women. (2026, May 20). How war impacts women and girls: A simple explainer on gender and conflict | UN Women – Headquarters. UN Women – Headquarters. https://www.unwomen.org/en/articles/faqs/how-war-impacts-women-and-girls-a-simple-explainer-on-gender-and-conflict



Comments