top of page

Nyatanya Suara Kami Tidak Didengar

May 30
2 min read
Keadaan Halte Kertajaya, Surabaya, di kala rush hour. Sumber: Dokumentasi pribadi
Keadaan Halte Kertajaya, Surabaya, di kala rush hour. Sumber: Dokumentasi pribadi
Dinas Perhubungan Kota Surabaya tetap melanjutkan penyesuaian operasional transportasi umum rute 3L meskipun segenap warga Surabaya telah melayangkan petisi penolakan. Kenyataan pahit harus diterima karena kebijakan terus tidak berpihak kepada mereka. Tanpa riset lapangan yang matang, kebijakan ini tidak hanya membuat penumpang merasa dijadikan kelinci percobaan, tetapi juga merenggut hak warga atas transportasi umum yang layak.

Surabaya, KOMA - Warga Surabaya harus menerima kenyataan pahit ketika petisi yang mereka ajukan terkait penyesuaian operasional transportasi umum rute 3L tetap berlaku pada awal tahun 2026 ini. Dari beberapa penyesuaian Dinas Perhubungan Kota Surabaya, pergantian armada bus medium menjadi feeder pada rute Purabaya–Kenpark (Kenjeran Park) membawa dampak yang besar bagi sebagian besar warga. Rute jalan tol yang tadinya sebagai bentuk efisiensi waktu diubah melewati kawasan SIER, sehingga durasi perjalanan menjadi lebih lama dari biasanya. Penyesuaian yang niat awalnya diperuntukkan sebagai bentuk peningkatan kapasitas, aksesibilitas, dan konektivitas berubah menjadi sebuah kesengsaraan. 


Kekecewaan warga semakin membara saat kebijakan diubah lagi dengan mengembalikan rute seperti semula. Rasanya mereka hanya dijadikan sebagai kelinci percobaan tanpa riset lapangan yang nyata dan jelas terkait kebijakan baru yang ditetapkan. Pemerintah pun rasanya lupa bahwa tidak semua orang memiliki akses internet untuk mengetahui segala informasi yang sifatnya mendadak di media sosial. Hal tersebut menimbulkan adanya kebingungan terutama penumpang lansia yang hanya bermodalkan informasi dari mulut ke mulut.


Tidak hanya itu, penumpukan penumpang di beberapa titik halte seperti Halte ITS terjadi sesuai dengan prediksi. Beberapa penumpang pun mulai memutar otak untuk menghindari halte yang diprediksi ramai di kala rush hour. Agar bisa pulang dengan nyaman, mereka yang melakukan transfer dari arah barat sengaja turun di halte ujung, seperti Halte Unair Kampus C. Akhirnya feeder dari arah Kenpark sudah penuh padahal baru menempuh setengah jalan dari total rute perjalanan. Bayangkan saja bagaimana nasib mereka yang terdampar di Halte ITS? Apa harus selalu sabar menunggu feeder yang jarak kedatangannya lama di tengah kapasitas armada yang sangat terbatas? Tidak ada lagi kenyamanan yang seharusnya pemerintah perhatikan dan berikan.


Kondisi ini semakin memuncak karena sebagian besar penumpang turun di Purabaya untuk pulang kampung pada penghujung weekday. Di momen seperti ini, pergantian antarpenumpang menumpuk drastis ke feeder selanjutnya. Memaksakan unit feeder dengan kapasitas dua kali lipat lebih sedikit dari bus medium untuk menampung jalan sepadat MERR, sungguh sebuah keputusan yang salah.


Bisa kembali disimpulkan bahwa hal ini merupakan bentuk inkompeten pemerintah dalam melihat kenyataan lapangan. Seharusnya mereka dapat memprediksi lebih jauh terhadap rute yang selalu menampung penumpang dengan volume masif. Pemerintah harus benar-benar mengevaluasi kebijakan secara matang serta mendengarkan suara warga yang terdampak langsung. Besar harapan kami untuk mendapatkan kembali hak atas armada yang layak, konsisten, dan memanusiakan penumpangnya.


Penulis: Adilla Nadia Pramudiani

Editor: Claudya Liana


Comments


bottom of page