top of page

Menghidupkan Kembali Kendali Diri Melalui Slow Living

Jan 2
3 min read
Sumber Gambar : Olga Ionina
Sumber Gambar : Olga Ionina
Bukan malas, ini merupakan strategi yang cerdas! Mengapa slow living adalah kebutuhan yang tepat untuk kesehatan mental.

Surabaya, KOMA - Di tengah kehidupan yang serba modern saat ini pastinya banyak tuntutan produktivitas, tekanan untuk bergerak cepat dan serba instan. Kita sering kali merasa seperti mouse yang berlari tanpa henti di atas roda. Saya setuju bahwa gaya hidup slow living merupakan hal yang penting diterapkan. Slow living bukan berarti hidup lambat ataupun malas, melainkan memilih hidup dengan lebih sadar dan terarah. Dengan memberi ruang untuk bernapas lega dan mengurangi ritme yang terlalu cepat, kita dapat memperoleh kesehatan mental yang pastinya lebih baik dan menemukan makna aktivitas sehari-hari kita. 


Saya berpendapat bahwa gaya hidup slow living bukan lagi sekadar tren, melainkan sebuah kebutuhan dan tindakan paling strategis untuk merebut kembali kendali diri dan mencapai kualitas hidup yang bermakna di era digital. Era modern, terutama yang ditandai dengan revolusi digital, telah menjadikan kecepatan sebagai norma budaya dan moral yang berlaku untuk hampir semua aktivitas manusia, mulai dari bekerja hingga bersenang-senang. Slow living menawarkan solusi yang logis. Konsep ini didefinisikan bukan sebagai bermalas-malasan, melainkan pilihan sadar untuk menjalani hidup dengan lebih bermakna dan seimbang, di mana kita meluangkan waktu untuk hal-hal yang benar-benar penting. Dengan kata lain, ia adalah praktik pengendalian diri yang tinggi. Data turut menunjukkan beberapa manfaat dari penerapannya. 


Pertama, penurunan stres dan kecemasan. Sebuah studi menunjukkan bahwa praktik melambatkan ritme dan mindfulness yang merupakan inti dari slow living secara signifikan dapat mengurangi tekanan darah, meningkatkan kualitas tidur, dan menjaga kekebalan tubuh. Dengan fokus pada momen saat ini, kita mengurangi overthinking tentang masa depan yang berada di luar kendali, yang menjadi salah satu pemicu stres.


Kedua, peningkatan fokus dan produktivitas berkualitas. Banyak yang salah mengira bahwa hidup lambat berarti tidak produktif. Justru sebaliknya, dengan menghindari multitasking dan memberikan fokus penuh pada satu tugas, kita dapat meningkatkan fokus dan konsentrasi, serta dapat menyelesaikan pekerjaan dengan lebih tepat waktu, yang mengarah pada produktivitas dan kreativitas yang lebih tinggi.


Slow living memaksa kita untuk lebih bijak dalam menentukan prioritas karena kita harus memilih hal yang paling bermakna. Ini adalah latihan yang mengarah pada pengenalan diri  yang lebih baik memungkinkan kita menjadi pribadi yang lebih bijaksana, mencintai diri sendiri, dan mampu menjaga hubungan yang harmonis dengan orang terdekat. 


Pada akhirnya, slow living bukanlah ajakan untuk meninggalkan era kemajuan, tetapi sebuah sadar terhadap hilangnya kendali diri di tengah yang serba digital dan modern. Sebagaimana yang telah dijelaskan, memilih untuk slow living adalah tindakan strategis. Ini merupakan cara paling efektif untuk merebut kembali kendali atas waktu dan pikiran kita yang telah dituntut lama oleh kecepatan dan produktivitas tanpa henti. 


Slow living membuktikan bukan hanya sebagai tren gaya hidup yang menyenangkan, tetapi sebagai kebutuhan untuk kesehatan mental dan kualitas hidup yang lebih bermakna. Dengan menerapkan kesadaran penuh, kita tidak hanya dapat menurunkan tingkat stres, tetapi juga dapat meningkatkan kualitas tidur dan tekanan darah yang lebih baik. 


Kesadaran untuk memprioritaskan hal yang penting baik itu pekerjaan yang mendalam, waktu refleksi. Oleh karena itu, jadikan slow living sebagai peta jalan untuk tidak sekadar hidup, tetapi untuk hidup dengan penuh kehadiran dan tujuan. Inilah cara menjadi lebih bijaksana, lebih mencintai diri sendiri, dan akhirnya, lebih berdaya di era yang serba cepat ini. 

 

Referensi


Harriguna, T., & Wahyuningsih, T. (2021). Kemajuan Teknologi Modern untuk Kemanusiaan dan Memastikan Desain dengan Memanfaatkan Sumber Tradisional. ADI Bisnis Digital Interdisiplin Jurnal, 2(1 Juni), 65-78.


Purwoko, S. A. (2023, August 23). Slow Living, Gaya Hidup Lambat yang Baik untuk Kesehatan. Hellosehat. https://hellosehat.com/mental/mental-lainnya/slow-living/ 


Penulis: Keysa Regina

Editor: Claudya Liana Morizza

Comments


bottom of page