Menanam Pulang: Merawat Rindu di Petak Sawah Surabaya

Di tengah padatnya Surabaya, Eko Wahyudi (50 tahun) memilih mengolah sepetak lahan pertanian di kawasan Bringin Indah, Sambikerep. Lahannya kini ditanami padi yang tumbuh subur, lengkap dengan tanaman terung ungu di pinggirannya.
Surabaya, KOMA - Surabaya jarang menjanjikan keheningan. Udara di kota ini hampir selalu sibuk, lekat dengan debu jalanan, sementara matahari seolah sengaja dibiarkan memanggang aspal sejak pagi. Kota metropolis ini bergerak cepat dari satu pabrik ke pabrik lain, dari satu deru mesin ke deru mesin berikutnya. Namun, jika kita mau menepi sedikit ke arah barat, menyusuri jalanan di Kecamatan Sambikerep hingga tiba di kawasan Bringin Indah, lanskap keras itu perlahan melunak. Hiruk-pikuk perlahan pudar, digantikan oleh desir angin yang menyapu rumpun-rumpun hijau yang merunduk tenang. Di sanalah, Eko Wahyudi merawat waktunya.
Di bawah caping bambu yang warnanya mulai pudar dimakan cuaca, pria berusia lima puluh tahun itu membungkuk pelan. Jemarinya yang kasar dan dipenuhi jejak tanah menyentuh batang padi dengan kelembutan yang kontras. Padi-padi di lahannya tidak sekadar tumbuh seadanya. Mereka menghijau lebat, memancarkan rona kehidupan yang jauh lebih pekat dibandingkan dengan lahan milik tetangga di sekitarnya.
Pagi itu, ia melangkah pelan ke pinggir petak, tempat pemandangan bertambah kaya. Di sana, terung-terung ungu menggantung ranum. Warnanya begitu mencolok di tengah kepungan hijau. Tangannya memetik satu buah terung, mengusap permukaannya yang halus. Ia tidak sekadar menanam benih, tetapi menyulam warna di antara napas bumi. Dari tanah yang sabar, tumbuh ungu yang memanggil pulang.
Pemandangan syahdu ini adalah hasil dari sebuah perjalanan panjang yang pernah melintasi batas negara. Eko Wahyudi tidak serta-merta menemukan panggilan jiwanya pada lumpur Surabaya. Pria kelahiran Kediri ini memiliki satu babak kehidupan yang membentang jauh hingga ke Brunei Darussalam. Bertahun-tahun lamanya, bersama sang istri, Aliyana, ia menukar hari-harinya di negeri orang demi menyambung hidup.
Di tanah perantauan itu, ia tidak memegang cangkul. Ia duduk di balik kemudi sebagai sopir bus antar jemput karyawan perkebunan. Berjam-jam ia habiskan untuk menunggu para pekerja selesai dengan urusan kebun mereka. Namun, dalam penantian demi penantian itu, matanya tidak pernah tertidur. Dari balik kaca jendela bus yang besar, ia mengamati hamparan lahan. Ia memperhatikan lamat-lamat bagaimana tangan-tangan merawat benih, bagaimana air dialirkan, dan bagaimana tanah memberikan balas budi atas keringat yang jatuh membasahinya.
Tidak ada buku catatan, tidak ada kelas khusus. Pelajaran itu mengalir masuk melalui pengamatan yang sunyi. Ia merekam setiap teknik, setiap cara telaten merawat tanaman, dan menyimpannya rapi di sudut ingatan. Pada saat yang sama, setiap kali ia melihat pucuk daun tumbuh di negeri asing itu, kerinduannya pada kampung halaman justru kian menebal.
Baginya, setiap genggam padi adalah cerita yang tak sempat selesai di perantauan. Gemerincing uang mungkin mengisi kantong bulanan, tetapi hal itu tidak pernah benar-benar bisa mengisi ruang kosong di dadanya. Ada rindu yang menumpuk pada aroma tanah basah usai hujan di negeri sendiri.
Panggilan untuk kembali akhirnya menang. Ia dan Aliyana pulang, memilih menetap di Surabaya. Di kota tempat cerobong asap lebih mendominasi pandangan ketimbang pepohonan, Eko mengambil keputusan yang sepi. Ia tidak melamar menjadi karyawan pabrik. Ia tidak mencari pekerjaan di balik kemudi lagi. Ia memilih kembali ke tanah.
Sawah kecil di Bringin Indah ini lantas menjadi kanvas tempat ia menumpahkan segala ilmu yang didapat dari perantauan. Tanah Surabaya mungkin dikenal panas, padat, dan perlahan terpinggirkan oleh laju perumahan. Namun, bagi seorang petani yang telah berkelana jauh, tanah selalu punya cara untuk mengerti bahasa manusia yang sungguh-sungguh menyayanginya.
Dengan ketekunan yang dirawat oleh waktu, ia mengolah lahan tersebut. Ia menanam padi yang rimbun, menyisipkan terung ungu yang lebat di tepiannya. Ia membuktikan bahwa bertani tidak harus menunggu tua di desa yang terpencil.
"Bertani itu menguntungkan, baik di luar negeri maupun di dalam negeri," ujar Eko. Kata-katanya sederhana, tetapi maknanya mengakar tajam. Ia tidak sedang mencoba melawan arus modernisasi kota, tidak juga mengelak dari kapitalis yang ada. Ia hanya sedang menjalani hidup yang paling masuk akal bagi batinnya.
Kini, setiap kali ia memandang sawahnya di bawah langit sore Surabaya, ada kepuasan yang tak bisa dikonversi menjadi deretan angka. Ia menunduk pada tanah yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan. Di tanah sendiri, ia menanam rindu agar kata pulang punya makna yang bisa benar-benar tumbuh.
Perjalanan Eko Wahyudi adalah sebuah cerita tentang merawat akar. Ia menjadi pengingat yang lembut bahwa sejauh apa pun manusia mengelilingi dunia mencari penghidupan, kedamaian paling utuh sering kali ditemukan tepat di tempat kaki kita berpijak, pada sepetak tanah yang kita panggil rumah.
Penulis: Laila I’da Syah Jadidah
Editor: Claudya



Comments