top of page

Anak Muda dan Kamera: Menyuarakan yang Tak Terdengar dari Pesisir Surabaya

May 21
3 min read
Fauzan, konten kreator muda yang mendokumentasikan realitas pesisir Surabaya. Sumber: Dokumentasi pribadi.
Fauzan, konten kreator muda yang mendokumentasikan realitas pesisir Surabaya. Sumber: Dokumentasi pribadi.
Di tengah pertumbuhan ekonomi Surabaya yang mencapai 5,87% pada 2025, kehidupan nelayan di wilayah pesisir justru menghadapi tekanan akibat pencemaran laut dan minimnya perhatian terhadap kondisi mereka. Keterbatasan akses untuk menyampaikan keluhan membuat suara para nelayan kerap terabaikan, hingga akhirnya seorang konten kreator muda mencoba mengangkat realitas tersebut melalui media sosial, membuka kembali pertanyaan tentang sejauh mana perhatian publik dan pemerintah benar-benar hadir bagi masyarakat pesisir.

Surabaya, KOMA - Selasa (19/5/2026), Surabaya, kota yang disebut oleh berbagai sumber sebagai kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Selain dari ukuran wilayah, Surabaya yang menjadi ibu kota Jawa Timur memiliki pertumbuhan ekonomi yang relatif positif yaitu 5,87% pada tahun 2025 (Badan Pusat Statistik Kota Surabaya). Namun, banyak suara rakyat kecil di pinggiran dan pesisir Surabaya yang masih belum dapat sampai ke pemerintah di pusat kota. Keluhan dari pesisir terutama dari para nelayan banyak membahas perihal pencemaran serta kerusakan ekosistem laut.


Di tengah perkembangan pesat Surabaya sebagai kota metropolitan, kondisi ekosistem alamnya terkesan buruk karena pencemaran limbah rumah tangga maupun limbah pabrik. Kondisi laut yang buruk pun mempersulit para nelayan dalam mencari ikan sehingga berpengaruh secara langsung ke perekonomian masyarakat di daerah pesisir. Meski begitu, media untuk para nelayan menyampaikan keluhan mereka tidak tersedia dengan baik. 


Di tengah terbatasnya ruang bagi nelayan untuk beraspirasi, media sosial menjadi ruang baru untuk bersuara. Anak muda di sini ikut turun sebagai perantara dalam menyampaikan keluh kesah tersebut. Fauzan, seorang konten kreator muda yang menyoroti kekhawatiran masyarakat kelas bawah dengan turun langsung ke wilayah pesisir Surabaya, mendokumentasikan kondisi pesisir Surabaya yang tidak pernah terkena sorotan publik. Dengan kamera sederhana dan pendekatan personal, ia tidak hanya merekam aktivitas melaut, tetapi juga menangkap kegelisahan para nelayan terhadap kondisi lingkungan yang kian memburuk.


Fauzan menjadikan kekhawatirannya akan kondisi ini sebagai motivasi dalam pembuatan konten. “Melihat kondisi indonesia saat ini ya, kan merupakan negara maritim, tapi saya sendiri heran kenapa hidup nelayan itu kurang sejahtera, berangkat dari rasa penasaran itu makanya bisa menghasilkan konten.” Ia prihatin melihat kondisi para nelayan dan terdorong untuk membantu menyuarakan keresahan mereka. Konten yang dihasilkan berhasil meraih 600k views di TikTok dan mendapat banyak respons positif dari netizen.


Di balik kesuksesan konten tersebut, banyak pertimbangan yang dipikirkan oleh Fauzan. “Mungkin karena first time, takut kecaman sih karena saya turun tanpa mengetahui latar belakang dan takut kalau para nelayan itu merasa terintimidasi,” katanya. Ia juga melanjutkan, “Melihat laut itu miris karena pencemaran laut karena berefek juga pada pendapatan nelayan di laut. Kondisi pesisir juga menjadi faktor karena perahunya banyak tergores batu, batu merusak perahu dan pemerintah kurang menaruh perhatian terhadap hal itu,” ungkapnya.


Fauzan di lapangan tempat ia merekam konten (19/5/2026).
Fauzan di lapangan tempat ia merekam konten (19/5/2026).

Fauzan sendiri bersyukur bahwa kemampuan yang dia punya dapat membawa dampak bagi masyarakat apalagi kelompok marginal yang jarang mendapat sorotan dari pemerintah. “Ya ada rasa bangga dan terharu lah, karena skill yang aku punya dan kembangin sejak lama bisa membawa dampak dan dukungan dari masyarakat, kita kan tahu bahwa masyarakat kelas bawah itu kurang mendapat sorotan, ketika tahu bahwa konten ku bisa membawa dampak itu bikin aku terharu,” tuturnya. 


Fokus isi konten Fauzan adalah bentuk suara serta kritik yang ditujukan ke pemerintah sebab kurangnya tindakan ke rakyat kecil. “Pak Abdul sebagai ketua nelayan waktu itu mengeluhkan bahwa alat-alat yang tidak terpakai dan merusak biota laut untuk disingkirkan karena mengganggu atau merusak lingkungan laut dan juga mengganggu perekonomian warga pesisir.” Harapan Fauzan melalui konten ini pemerintah akan merespons dan memberikan bantuan kepada para nelayan.


Di balik pesatnya pembangunan Surabaya, masih terdapat realitas nelayan pesisir yang terpinggirkan dan belum mendapat perhatian yang layak. Kehadiran anak muda seperti Fauzan melalui media sosial memang membuka ruang baru bagi suara-suara yang selama ini terabaikan, namun dampak nyata dari upaya tersebut tetap menjadi pertanyaan yang harus dijawab bersama. Tanpa respons konkret dari pemerintah, narasi yang viral berisiko berhenti hanya sebagai konsumsi publik, sementara persoalan mendasar yang dihadapi nelayan tetap berlanjut tanpa perubahan berarti.


Penulis: Christian Laska Nugroho

Editor: Claudya Liana Morizza



Comments


bottom of page