top of page

Lihat Sekitarku Penuh dengan Plastik

Jan 5
3 min read

Sampah plastik menumpuk di mana-mana, mengisi setiap sudut kota. Bahkan, tempat pembuangan sampah akhir pun sudah tak kuat menampung lagi. Bagaimana jadinya jika kondisi ini terus terjadi? Bagaimana jika ia mulai menyerap ke dalam tubuh kita?

Surabaya, KOMA – Plastik sudah menjadi teman dekat kita. Ia hadir dalam setiap langkah hidup kita. Mulai dari sedotan sekali pakai yang digunakan untuk menyeruput es teh jumbo seharga tiga ribu rupiah, kantong kresek untuk membawa belanjaan sehari-hari, hingga bubble wrap yang melindungi paket sampai ke tangan kita. Sayangnya, plastik juga menimbulkan masalah baru. Kepraktisan plastik yang beriringan dengan rendahnya kesadaran dalam penggunaannya menciptakan persoalan serius bagi manusia dan lingkungan.


Lantas mengapa sampah plastik merugikan kita?

Pertama, timbunan sampah. Kita kerap menggunakan plastik sekali pakai lalu membuangnya begitu saja. Tak jarang, sampah plastik tersebut berakhir di sungai atau pinggir jalan. Hal ini menyebabkan tumpukan sampah berserakan, mencemari lingkungan, serta menimbulkan potensi penyakit.


Kedua, sulit terurai. Sampah plastik memiliki karakteristik yang sangat sulit terurai. Dibutuhkan ratusan hingga ribuan tahun agar satu jenis sampah plastik dapat terurai secara alami. Dengan sifat tersebut, sampah plastik yang terus diproduksi dalam jumlah besar mengakibatkan penumpukan di lingkungan dan memperparah pencemaran.


Ketiga, mencemari lingkungan. Sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik akan mencemari lingkungan secara luas. Salah satu bukti nyata pencemaran ini adalah kasus seekor paus sperma yang ditemukan mati di perairan Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara, pada tahun 2018. Di dalam perut paus tersebut ditemukan 5,9 kilogram sampah plastik.


Dilansir dari Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,  timbulan sampah diperkirakan mencapai 50,06 juta ton pada tahun 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar 40 persen tidak terkelola dan berakhir di laut. Setiap tahunnya, diperkirakan sebanyak 16,02 juta ton sampah masuk ke perairan Indonesia.


Plastik yang terbuang ke laut atau tidak dikelola dengan baik dapat terurai menjadi mikroplastik. Kondisi ini berakibat buruk bagi lingkungan dan manusia. Mikroplastik dapat mengontaminasi hewan, air, udara, tanah, hingga tubuh manusia. Ketika mikroplastik berada di laut, partikel ini akan mencemari biota laut dan perairan sekitarnya. Akibatnya, manusia yang mengonsumsi hasil laut turut terkontaminasi mikroplastik. Bahkan, air hujan pun dapat tercemar mikroplastik. Hal serupa juga terjadi di daratan, misalnya ketika para pemulung memilah sampah plastik tanpa alat pelindung diri yang memadai sehingga mereka terpapar secara langsung.


Dilansir dari unggahan akun Instagram @Narasinewsroom pada 22 Oktober, telah ditemukan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta. Hal ini berasal dari aktivitas manusia di wilayah perkotaan yang menggunakan plastik dalam jumlah banyak. Dampaknya bagi manusia sangat membahayakan. Mikroplastik berukuran sangat kecil dapat terserap ke dalam tubuh dan memicu stres, mengganggu sistem hormon, serta merusak jaringan tubuh. Dampak bagi lingkungan pun tidak kalah serius karena air hujan yang tercemar akan kembali mengalir ke laut dan mengganggu siklus rantai makanan.

 

Selanjutnya, dilansir dari unggahan akun Instagram @Narasinewsroom pada 23 Oktober, ditemukan mikroplastik dalam air ketuban dan darah warga di Gresik. Salah satu penyebabnya adalah aktivitas pemulung yang memilah sampah tanpa alat pelindung diri yang memadai sehingga terpapar plastik secara langsung. Selain itu, penggunaan sedotan sekali pakai, wadah plastik untuk makanan dan minuman panas, serta kebiasaan membakar sampah juga menjadi faktor penyebab lainnya.

 

Berdasarkan berbagai pemberitaan dan hasil penelitian yang ada, sudah sepatutnya kita lebih mawas diri terhadap isu sampah plastik saat ini. Dampak negatif dari sampah plastik ini nyata dan telah terjadi di sekitar kita. Bahkan, bukan tidak mungkin mikroplastik telah mengendap di dalam tubuh kita. Oleh karena itu, Sebagai individu penting adanya kita untuk mulai melakukan perubahan, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menggunakan wadah makanan dan minuman nonplastik, membawa kantong belanja sendiri, memilah sampah dan menyalurkannya ke bank sampah, serta mulai menggunakan produk ramah lingkungan. 


Bagi pemerintah, perlu adanya penegasan kebijakan terkait pemilahan dan pengelolaan sampah, serta pemberian imbauan tegas kepada produsen yang masih menerapkan sistem single use dalam proses produksinya. Sementara itu, produsen diharapkan dapat menghentikan sistem produksi sekali pakai dan mulai mengedepankan proses produksi yang berkelanjutan.

 

Penulis: Luthfi Nur Fauziyah

Editor: Flora Hensylia

 

Referensi


Comments


bottom of page