top of page

Krisis Empati Indonesia: Ketika Stigma Mematikan Rasa Kemanusiaan

Sep 3
3 min read
Penumpang KRL memenuhi tempat kejadian perkara (TKP) korban bunuh diri di Stasiun Jurangmadu, Selasa (26/5/2026). Sumber: kilat.com
Penumpang KRL memenuhi tempat kejadian perkara (TKP) korban bunuh diri di Stasiun Jurangmadu, Selasa (26/5/2026). Sumber: kilat.com

Tragedi memilukan yang menimpa seorang siswi SMA di Stasiun Jurangmangu, Tangerang Selatan, tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi dunia pendidikan dan perlindungan anak, tetapi juga menelanjangi krisis empati serta maraknya stigma negatif terhadap isu kesehatan mental di tengah masyarakat dan ruang digital Indonesia.

Surabaya, KOMA - Pada Senin (10/8), awal bulan Agustus 2026, ranah pendidikan dan perlindungan anak di Indonesia kembali berduka. Seorang Siswi SMA diduga melemparkan dirinya ke jalur Kereta Rel Listrik (KRL) di area Stasiun Jurangmangu, Tangerang Selatan. Dilansir dari Monitor Indonesia, kejadian terjadi sekitar pukul 16.30 WIB. Sedari awal, gerak-gerik korban sudah terlihat mencurigakan, seperti berdiri di garis batas peron, melemparkan tasnya ke rel, dan juga melihat ke sana kemari melewati garis batas yang sudah ditentukan.


Penyelidikan segera dilakukan oleh tim kepolisian setelah kejadian tragis tersebut terjadi. Kronologi dalam Catra Warta menjelaskan bahwa korban sempat berjalan bersama temannya, kemudian berpisah untuk menunggu kereta di lokasi yang berbeda. Pihak kepolisian mengambil tindakan bertahap dengan tidak langsung menyimpulkan kejadian sebagai kasus bunuh diri. Namun, hal tersebut sempat dipatahkan dengan status media sosial yang dibuat oleh korban sebelum meninggal. Isi dari status yang tertulis dalam bahasa inggris tersebut berbunyi seperti ini jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia:


“Akan mencobanya (suicide attempt) hari ini, maaf kalau membuat kereta kalian jadi terlambat.”


Hal ini memicu berbagai respons di media sosial, baik itu berempati ataupun sebaliknya. Mirisnya lagi, respons mayoritasnya termasuk tidak berempati dengan menjelekkan korban bahkan setelah korban meninggal secara tragis. Dalam berbagai platform di media sosial, komentar negatif dilontarkan oleh banyak akun mengenai kejadian ini. Mereka cenderung menyalahkan korban karena memilih untuk mengakhiri hidupnya. 


“mati nya nyusahin bree,” oleh akun Kanye East,

“bundir gblk bikin susah orng, tlol,” oleh akun ocill_28,

“bawa empati buat orang bundir ngapain amat tll dasar bocah iq rendahan,” oleh akun amanler,


dan masih banyak lagi. 


Dari hal ini, bisa dikatakan bahwa Indonesia memiliki krisis empati yang cukup tinggi karena banyaknya individu nirempati yang masih tersebar, baik itu di dunia nyata maupun dunia maya.


Tidak sedikit dari komentar yang ada di media sosial menyinggung dosa karena bunuh diri, sehingga tetap akan disiksa di neraka meskipun ia sudah tiada. Hal ini berhubungan erat dengan konteks budaya yang menyangkut agama di Indonesia. Budaya tentang agama yang sudah mengakar erat di Indonesia membentuk pandangan atau pemahaman yang cenderung negatif terhadap kejadian bunuh diri dengan alasan apapun. Hal ini dikarenakan keputusan untuk bunuh diri dinilai berdosa bagi agama-agama yang ada di Indonesia, sehingga menciptakan pemahaman negatif yang kolektif di masyarakat. Oleh karena itu, kemampuan empati di Indonesia masih sangat perlu ditingkatkan terlepas dari konteks budaya apapun.


Melihat fenomena krisis empati dan kuatnya stigma masyarakat ini, perlindungan terhadap anak serta penanganan isu kesehatan mental di Indonesia perlu dibenahi secara mendasar. Pendekatan yang berfokus pada penghakiman moral hanya akan menutup ruang bagi remaja yang sedang mengalami depresi atau tekanan psikologis untuk bersuara dan mencari bantuan. Sekolah, keluarga, dan lembaga keagamaan perlu berkolaborasi demi menciptakan ruang aman yang edukatif, di mana masalah kesehatan mental dirangkul dengan wawasan psikologis dan kepedulian manusiawi, bukan lagi dipandang sekadar sebagai bentuk kelalaian iman. Selain itu, kesadaran dalam beretika di dunia digital juga harus terus diberi pemahaman agar ruang publik tidak dipenuhi oleh kebencian yang menumpulkan rasa kemanusiaan kita.


Penulis: Christian Laska Nugroho

Editor: Sinta Lidya


Referensi


Efrizal, E. (2026, August 11). Kronologi Siswi SMA Tewas Tertabrak KRL di Jurangmangu, Polisi Dalami Dugaan Bunuh Diri. Monitor Indonesia. https://monitorindonesia.com/nusantara/read/2026/08/632047/kronologi-siswi-sma-tewas-tertabrak-krl-di-jurangmangu-polisi-dalami-dugaan-bunuh-diri 


Wiwit. (2026, August 11). Alasan Polisi Tak Buru-Buru Simpulkan Bunuh Diri Kasus Siswi SMA Tertabrak KRL di Tangsel. CATRAWARTA - Payung Kehidupan. https://www.catrawarta.com/warta/alasan-polisi-tak-buru-buru-simpulkan-bunuh-diri-kasus-siswi-sma-tertabrak-krl-di-tangsel/ 

Comments


bottom of page