Komodifikasi Narasi dan Rapuhnya Identitas

“… tidak percaya bukan berarti melarang hati untuk tetap terbuka, karena realita yang ada dan akan ada adalah bagian dari tanggung jawab kolektif. Sejatinya kita hidup berdampingan jauh lebih dekat dari yang kita bayangkan.”
Surabaya, KOMA - Dekade ini, salah satu narasi yang tak asing terdengar adalah sebuah narasi yang mendorong aksi penerimaan diri sendiri. Benar adanya jika narasi ini sudah banyak membantu dalam membangun kepercayaan diri setelah beberapa kali dibombardir oleh narasi yang menstandarisasi dan menyeragamkan apa arti sebuah “kesuksesan” di dunia. Menjadi wajar kemudian jika narasi sebaliknya yang berujung ramai dan berubah menjadi konsumsi umum. Luka yang membekas akibat narasi terdahulu (standarisasi, seperti standar kecantikan dan kemapanan) telah memunculkan banyak tindakan yang membahayakan individu tak terkecuali seperti gangguan makan, operasi kecantikan tanpa konsiderasi, dan banyak tindakan impulsif lainnya.
Mulanya narasi semacam ini memang muncul sebagai bentuk kontra narasi yang sekarang justru berubah menjadi senjata yang memakan tuannya sendiri. “Love yourself”, “Be who you are”, dan beragam kutipan lainnya kemudian berakhir menjadi peluru yang seolah ditodongkan kepada khalayak agar akhirnya mereka melakukan aksi pembelian. Pembelian yang dimaksudkan adalah pembelian terhadap segala produk atau sesuatu yang digadang-gadang memiliki kapasitas dalam merealisasikan impian mereka itu. Gerakan yang mulanya memiliki ikhtiar baik alhasil bergeser menjadi komoditas untuk dikomersialisasikan.
Ketimbang melakukan aksi itu sendiri justru muncul bentuk penyelewengan baru yang lain seperti tindakan konsumerisme yang berlebihan (overkonsumerisme). “Self-love” di sini hanyalah salah satu dari begitu banyaknya narasi yang diperjualbelikan. Tindakan konsumsi yang berlebih ini kemudian memunculkan pertanyaan, apakah kita telah menjadi masyarakat yang semakin tidak kritis dalam perilakunya?
Iklan yang dikomersialisasikan menjual sebuah identitas, dan khalayak mengartikan bahwa dengan melakukan apa yang didikte oleh iklan, keberadaan mereka kemudian akan diakui oleh dunia. Tak mengherankan jika ini terjadi, sebab pada era di mana paparan informasi yang tak kunjung henti banyak menciptakan ruang gema, kita kemudian menjadi bingung dan rapuh di hadapan berbagai macam narasi. Kerapuhan identitas membuat kita kemudian cepat mengidentifikasi diri terhadap narasi tertentu. Begitu membeli atau melakukan tindakan yang dikomersialisasikan tersebut, ilusi akan pengakuan datang menghampiri.
Sayangnya hal semacam ini bersifat sistemik dan sudah disusun sedemikian rupa agar yang diuntungkan makin diuntungkan. Kita dibuat semakin tidak peduli, semakin mati rasa terhadap apa yang sudah ada sehingga tidak terlintas lagi keinginan untuk mempertanyakan.
Memang tak begitu besar yang dapat kita lakukan melihat keadaan saat ini. Namun dengan sedikitnya menyadari tujuan dibalik sesuatu yang ada, dampak dari ketidakpedulian yang sering kali berujung pada kerugian paling tidak bisa diminimalisir. Sekecil apa pun cobalah untuk mulai peduli. Menyadari bahwa tindakan dan pikiran memiliki pengaruh nyata bagi seksama membuat kita akan lebih berhati-hati dan mawas terhadap apa yang terpampang. Cobalah untuk lebih tidak percaya dalam artian yang luas, namun tidak percaya bukan berarti melarang hati untuk tetap terbuka, karena realita yang ada dan akan ada adalah bagian dari tanggung jawab kolektif. Sejatinya kita hidup berdampingan jauh lebih dekat dari yang kita bayangkan.
Penulis: Rachmi Raina
Editor: Claudya Liana



Comments