Are Boundaries Motivated by Ego or Self-Respect?

Personal boundaries atau batasan diri kerap menimbulkan kesalahpahaman antara egoisme dan penghargaan diri. Dalam kehidupan sosial yang menuntut keterbukaan, kemampuan menolak dan menetapkan jarak sering kali dianggap sebagai tindakan egois, padahal keputusan tersebut merupakan wujud penjagaan atas kesehatan mental dan harga diri kita sendiri.
Surabaya, KOMA - Kita pasti pernah bertemu dengan orang-orang yang dianggap “egois” karena mereka memilih untuk menarik diri sejenak atau menolak beberapa ajakan maupun permintaan karena merasa tidak sanggup. Sikap ini sering dinilai negatif karena seolah-olah mereka tidak peduli dan tidak ingin membantu yang lainnya. Padahal, di balik keputusan yang mereka buat,terdapat kesadaran kuat terhadap diri sendiri khususnya dalam menjaga kesehatan mental, energi, dan harga diri.
Namun, di tengah lingkungan sosial yang menuntut kehadiran dan partisipasi, kesadaran diri seperti itu sering disalahpahami. Di kampus, organisasi, maupun pertemanan, terdapat semacam aturan tak tertulis bahwa seseorang harus selalu hadir dan ikut dalam setiap kegiatan agar tidak dianggap acuh. Di balik tekanan sosial ini, telah dijelaskan dalam perspektif psikologi kondisi ini bertentangan dengan Self-Determination Theory, autonomy (perasaan memiliki kendali atas pilihan dan tindakannya sendiri) merupakan salah satu kebutuhan psikologis individu. Ketika seseorang terus dipaksa untuk selalu hadir agar dianggap “peduli”, ruang otonomi tersebut akan terancam. Hal ini dapat membuat seseorang takut terhadap penilaian dari lingkungan sekitarnya ketika bersosialisasi, sehingga partisipasi yang dilakukan tidak lagi didasari oleh keinginan yang tulus.
Menetapkan boundaries bukan berarti lepas dari tanggung jawab. Justru, boundaries dapat membantu seseorang menjalankan tugasnya dengan lebih fokus tanpa mengorbankan kesehatan mental. Seseorang yang telah mengambil amanah dalam organisasi memang wajib menuntaskan tugasnya, tetapi tetap wajar jika ia menolak tambahan beban ketika hal tersebut sudah melebihi kapasitasnya. Memaksakan diri secara terus-menerus hanya akan menghasilkan kinerja yang kurang optimal serta menimbulkan kondisi emosional yang buruk. Brené Brown menyatakan bahwa self-boundaries bukanlah dinding pemisah, melainkan pagar pelindung yang memastikan energi kita digunakan untuk hal-hal yang benar-benar penting dan dibutuhkan. Seseorang yang mengenal batas kemampuan dirinya justru sedang melindungi integritas pekerjaannya agar tetap optimal, bukan menghindar atau melepaskan tanggung jawab.
Orang yang mampu menetapkan batasan diri bukan berarti egois atau tidak peduli. Mereka berusaha menstabilkan emosinya agar dapat bekerja secara konsisten. Dalam konteks kehidupan perkuliahan, mahasiswa yang mengetahui kapan harus beristirahat dan mengatur kembali energinya cenderung mampu menjaga performa akademik maupun sosial dalam jangka panjang. Mereka tidak mudah burnout atau demotivation karena mereka memiliki ritme hidupnya sendiri. Menurut pandangan Brené Brown , seseorang yang memiliki boundaries yang sehat bukan orang yang acuh. Justru, merekalah yang paling mampu memberi dengan tulus karena memberi dari “penuh”, bukan dari “kosong”. Dengan kata lain, menjaga diri merupakan bagian dari tanggung jawab sosial karena individu yang seimbang dan memiliki self-consiousness yang baik dapat menjadi teman, rekan, ataupun pemimpin yang bijak dan berdampak positif bagi sekitarnya.
Meski demikian, kenyataannya menjaga boundaries di lingkungan kampus tidak semudah itu. Banyak mahasiswa merasa bersalah saat menolak ajakan teman, absen dalam rapat atau kegiatan organisasi, atau memilih beristirahat daripada mengikuti proyek tambahan. Budaya overachieving sering kali membuat kita lupa bahwa fisik dan pikiran juga membutuhkan ruang untuk bernapas. Jika kondisi ini dibiarkan terus-menerus, batas antara tanggung jawab dan pengorbanan akan menjadi kabur, seolah-olah nilai seseorang hanya diukur dari seberapa sibuk ia terlihat.
Berani menolak tidak menandakan seseorang lemah atau egois, melainkan bentuk kedewasan dalam mengenali kapasitas diri sendiri. Lingkungan kampus seharusnya menjadi ruang pembelajaran tentang life-balance, bukan arena kompetisi untuk menunjukkan siapa yang paling sibuk. Mungkin saja dunia, terutama dunia mahasiswa akan menjadi lebih sehat apabila setiap individu mampu mengenali self-boundaries dan menolak tanpa disertai rasa bersalah, selama hal tersebut memang dibutuhkan.
Mungkin sudah saatnya bagi kita berhenti untuk mengukur nilai seseorang dari seberapa sering ia hadir atau sesibuk apa ia terlihat. Alih-alih menuntut partisipasi penuh di setiap saat, mungkin pertanyaan yang lebih penting untuk kita ajukan bersama adalah: Apakah kita sudah menciptakan sebuah lingkungan dimana setiap orang dapat jujur berkata “tidak” tanpa perlu merasa bersalah?
Referensi
https://www.academia.edu/24470501/The_What_and_Why_of_Goal_Pursuits_Human_Needs_a nd_the_Self_Determination_of_Behavior
Penulis: Khaira Azwa Putri Ranaji
Editor: Flora Hensylia Deanova



Comments