SAAT SEMUA TER(DIAM)

Pemberhentian selanjutnya: Stasiun Waru.
Suara interkom memecahkan lamunanku. Di tengah-tengah gerbong empat, aku bergerak di sela-sela kerumunan. Gerbong ini dipenuhi berbagai wajah yang tampak seperti galeri yang bergerak tanpa putus. Memperlihatkan kontras emosi satu dengan yang lainnya tanpa saling mengenal. Seperti mereka telah mengemban lelah akan sesuatu, dan kini mereka hendak istirahat dari hari yang panjang.
Sesak.
“Mar, yang bener aje lu. Rame banget buset dah.”
Daffa terapit oleh dua orang yang ada di sekitarnya. Ia adalah sohibku, ke mana-mana kami selalu bersama. Bagai pinang dibelah dua. Eh, salah ya? Adalah pokoknya.
“Kau jangan banyak protes, selamat datang di Jatim,”
“Kumal anjir”
“Kumal matamu a,” aku sedikit menyentak.
“Santai dong, jingan”
“HEH,” aku memukul perut Daffa pelan.
“Kenapa woi? Presiden kita aja ngomong kayak gitu di publik.”
Aku menghela napas. Kenapa malah bawa-bawa presiden? Aku sangat benci ketika obrolan harus berakhir ke sesuatu yang berbau politik. Aku melihat sekitar, sangat banyak model orang-orang yang memenuhi gerbong ini. Ada seorang ibu yang harus menggendong anaknya yang menangis, seorang bapak yang masih berseragam ASN—sedang menelepon anaknya lewat video call, seorang mahasiswi seumuranku yang tampak lelah, wajahnya terlihat letih karena beban yang diemban cukup berat, mendekap buku yang mungkin adalah buku catatan hariannya. Ia terlihat sedikit bingung, barangkali ini pertama kalinya naik kereta?
“Lu kenapa mantengin mbak-mbak sebelah sono? Naksir ye?”
“SSSTT mana ada lah anjir!”
“Cieee …”
Aku menyikut perut Daffa dengan cukup keras, membuatnya meringkuk sedikit menahan sakit.
“Hatiku udah ada yang punya, bang,” ujarku kepada Daffa dengan mata berbinar.
“Yeee … siapa tuch Mas Umar?”
Aku diam, menatap keluar jendela yang ada di pintu masuk gerbong. Hingar bingar disekitarku mulai lenyap perlahan. Suara Daffa berubah menjadi dengungan yang tak pasti, aku tidak lagi berfokus ke sana. Melihat pemandangan kota dari sini seperti melihat film dengan efek motion blur. Tidak begitu jelas, kereta berjalan jauh lebih cepat. Tapi, aku masih bisa merasakannya.
Kota yang padat, penuh klakson, dan bunyi-bunyian bagaikan sedang terjadi perang dunia di luar sana. Pemandangan umum ketika melintas daerah Waru menuju Sidoarjo kota. Hingga pada satu titik memoriku, ikut melesat ke dalam visiku.
Dia. Aku melihatnya dengan jelas di ingatanku.
Senyumnya merekah, di tengah panasnya Surabaya yang dapat melelehkan setiap orang bagaikan padang mahsyar. Dia di sana bagaikan sebuah pion yang menjadi titik fokus utamaku. Terlihat riang, matanya yang menyipit ketika tertawa, helaian rambut setengah basahnya yang terlihat melambai, tawanya yang menghiasi gema kampus yang padat.
Seperti semua terdiam.
“Oiii! Malah senyum-senyum sendiri si kampret,” Daffa menyadarkanku.
Aku tersenyum lebar, seperti usai melihat pelangi di tengah-tengah perjalanan.
“Katanya lu bikinin dia puisi? Mana coba?” Lalu dengan cepat ia merebut ponselku dan segera mencari puisi itu di catatanku. Aku berusaha merebut darinya, tetapi ia lebih cepat.
“ICARUS!”
Ia menemukannya, sialan.
Daffa membaca puisi itu dengan diam, menatap ke layar yang bergerak dari atas ke bawah, ia fokus, padahal sebelumnya aku tidak pernah melihat beliau sefokus ini kecuali mengincar nasi kotak masjid pada hari Jumat. Ia senyum-senyum geli saat membaca, aku pura-pura tidak kenal siapa orang di sampingku ini. Aku terus membuang muka, berharap ia tidak berujar hal-hal yang tidak senonoh.
“Panjang itu ceritanya,” aku mengintip. Daffa memberikan ponselku dan melihatku dalam.
“Lu secinta itu ya sama si Putri?”
Deg. Seperti ia mengerti apa isi hatiku.
Aku menatap Daffa dan tersenyum.
“Gimana ya, gitulah, kamu tau sendiri kan,” aku menatap ke arah luar jendela, tetapi otakku tetap memainkan memori yang sama.
Daffa tersenyum kearahku. Jujur, aku jarang sekali melihat ia tersenyum seperti ini. Pasti setelah ini ada kalimat yang seharga emas.
“Emang lu kenapa si naksir Putri?”
“Jujur gatau, suka aja sih.”
Daffa memasang wajah heran. Mungkin karena aku gagal mendeskripsikan apa yang aku rasakan saat itu. Aku mengarahkan pandangan ke arah petugas kebersihan yang berlalu-lalang, memakai seragam kuning, dan membawa kantong besar berisi sampah-sampah dari kereta. Mereka dengan sabar menyusuri kereta yang berupa lautan manusia ini dengan tenang dan terkendali.
“Gak habis pikir gue, yang bener Mar, spill lah.”
Ia menggoyang-goyangkan bahuku dengan pelan, penasaran. Dan ada sedikit nada tidak percaya, seakan aku asal menjawab agar ia tenang. Aku mengenyahkan tangannya, dan menarik napas dalam-dalam.
“Intinya, aku suka dia karena dia punya daya tarik sendiri. Dibilang populer? Nggak terlalu. Antisosial? Jauh. Tipe cewek yang asik, bahkan kadang receh.”
“Tau dari mane lu?”
“Dia pernah nge-jokes meme Tung Tung Sahur njir”
“Lucu?”
“Nggak sih”
“Tapi lu ketawa kan?”
Aku terkekeh.
“Nah”
“Berarti bukan jokes-nya yang lucu …”
“... tapi orangnya.”
Sialan, aku merasa pipiku memanas sedikit. Memang Daffa selalu bisa membuatku terdiam seribu bahasa perkara hal-hal sekecil ini. Dan itu cukup bagiku.
Tawanya berangsur hilang.
Aku kembali mengamati orang yang bersandar di pintu kamar mandi, tak jauh di depanku. Ia terlihat seperti pria paruh baya yang letih akibat hari yang panjang, mengenakan seragam aparat khas berwarna coklat pudar, dibalut jaket kulit sehingga terlihat samar. Kadang aku lupa, di antara mereka masih ada seorang manusia.
Tak jauh dari sana, ada seorang anak muda yang sibuk mendengarkan lagu dan melihat ke luar jendela. Terdapat anting di telinga kirinya, dan rambut yang dipotong mullet. Dan uniknya, ia mengenakan kaos hitam yang agak lecek, bertuliskan ‘All Cops Are Bastard!’. Di luar gerbong ini mereka seharusnya saling membenci. Namun di dalam kereta ini, pertama kalinya mereka memiliki tujuan yang sama.
Pulang.
“Tapi emang, kamu percaya sama cinta dari jauh?” aku berusaha memecah lamunanku.
“Susah itu mah. Lagian orang kok pada bisa ya?” protesnya.
“Cinta kan subjektif, Daf.” Aku menghela napas sejenak, kembali melihat ke arah orang-orang lain di bordes, dan kembali ke wajah Daffa.
“Kamu bakal terus heran, sampai kamu alamin semua sendiri,” Daffa melirik ke luar jendela, tapi terus mendengarkan.
Pemberhentian selanjutnya: Stasiun Gedangan.
Wajah-wajah itu berangsur hilang. Volume kepadatan gerbong empat jauh berkurang. Setidaknya aku dan Daffa bisa bernapas lega sekarang. Kami saling memandang dan tersenyum lepas, akhirnya aku memberi jarak sedikit dari tempat Daffa berdiri. Bersandar pada bordes, sekarang tinggal kami berdua, masih berdiri. Lalu dalam waktu sepersekian detik, seakan semua terdiam.
Aku heran, kenapa jantungku berdebar hebat?
Aku menyapu pandangan ke sekitar, berusaha mengabaikan orang-orang yang berlalu-lalang. Hingga aku sadar, mataku berhenti pada satu titik di sebuah kursi yang menghadap ke arahku dari jauh. Ada sosok orang yang tidak asing bagiku.
Dia duduk dengan tenang di ujung gerbong empat. Di tengah desakan manusia-manusia yang memenuhi seisi gerbong, dia terlihat seperti menciptakan “ruang hampa”-nya sendiri. Terlihat tenang dan terkendali dalam setiap gerakannya.
Ia mengenakan earphone kabel warna putih khasnya, fokus ke ponsel yang ia genggam, dengan kaki sedikit menekuk karena ada orang di hadapannya. Sesekali ia tersenyum ketika ada orang yang menyapa atau hendak lewat. Sesekali ia melepas earphone untuk mendengar panggilan orang di hadapannya.
Sesekali aku melihat sepatunya, kakinya menghentak pelan sesuai irama. Kalau dilihat dari ketukannya, mungkin lagu pop? Ia memangku binder warna pink miliknya yang baru, sebelumnya ia memiliki binder warna coklat yang cukup usang dengan aneka stiker anime kesukaannya. Entah kenapa aku lebih hafal binder itu daripada milikku sendiri.
Dia tersenyum kepada orang yang ada di sampingnya. Aku yang jatuh cinta.
“Lu kenape Mar?”
Aku terdiam.
“Mar?!”
Aku masih terdiam.
“WOY KAMPRET!”
“APAAN SIH, BERISIK!” aku membentak Daffa karena reflek.
Daffa yang sekarang diam.
“Ada siape?”
“Udah jangan nengok”
“Alay lu,” Daffa kemudian berusaha menyamakan arah pandangnya denganku.
“WEHH ITU—"
“Ssstt! Diem kocak!” aku mendorongnya cukup keras ke tembok bordes.
Putri masih tidak sadar, fokus kepada alunan lagu yang dimainkan di earphone-nya. Ia mengambil botol kosong yang menggelinding ke kakinya, dan membuangnya ke kantong sampah terdekat.
“Udah?” Daffa menepuk pundakku pelan.
“Apanya?”
“Diliatin mulu, naksir berat ya mas?”
“Menengo po’o se.”
“Apa artinya Bang Messi?”
“Ente goalkeeper paling hebat”
“Ngarang lu”
JGLAM!
Lampu kereta padam seketika, namun kereta masih melaju.
Atmosfer mulai berubah menjadi tegang.
Ibu yang panik seketika memeluk erat anaknya.
Ayah yang sudah tenang terlihat menelepon kembali keluarganya di rumah.
Beberapa orang bahkan berdoa dengan segala ingatannya, agar bisa selamat malam ini.
Aku tertegun, dadaku mulai sesak.
Aku tidak bisa melihat apa-apa, yang aku cari hanya satu: Earphone berwarna putih itu.
Aku mencengkeram lengan Daffa, bahkan ia tidak berkutik sama sekali. Aku masih bisa merasakan kehadirannya di sisiku. Tak ada jokes yang keluar, Daffa membeku di tempat seketika.
Lampu kembali menyala.
Orang-orang merasa lega. Keadaan mulai cair, kembali ke semula.
Di balik semua itu, aku berusaha menyapu pandangan ke kursi yang ada di ujung gerbong.
Mataku menyusuri satu-satu kursi, mencoba menyasar segala arah yang terjangkau oleh mataku.
Ketika mataku berhenti pada kursi di ujung gerbong, jantungku terasa berhenti satu detik.
Kosong.
Tidak.
“Mar …,” suara Daffa terdengar pelan.
“Diem.”
Aku mencoba menyusuri lagi setiap sudut gerbong empat, melihat ke kanan dan kiri, melangkah satu-dua langkah agar bisa menyusuri dengan lebih jelas.
Nihil.
“Kenapa Mar?” Daffa terlihat was-was, melihatku sedang kebingungan dan tegang.
“Putri”
“Kenapa?”
“Hilang, Daf.”
Daffa terdiam.
Ia mencoba berjalan lebih jauh menyusuri gerbong, melihat ke segala arah, dan kembali ke bordes. Ia terus awas, matanya tak pernah berhenti melirik.
“Tadi dia duduk di ujung kan Mar?”
“Iya”
“Paling ke kamar mandi, Mar,” Daffa terlihat berusaha tenang.
“Tapi kamar mandinya kosong tuh”
“Masa iya?”
“Iya”
“Mar ….”
Klik.
Pintu kamar mandi terbuka.
Terlihat Putri dengan sopan melangkah keluar, meluruskan roknya yang kusut dan mempersilakan ibu yang lebih tua untuk masuk, bahkan dia tersenyum seperti biasa.
Menurut dia itu hal biasa.
Menurutku itulah alasanku jatuh padanya.
“Tuh kan, ngeyel mulu dah.”
“Diam kau.”
Daffa kembali sibuk dengan ponselnya, sembari senyum-senyum sendiri.
“‘Ndasmu’ kayaknya bakal jadi kata yang paling sering dipake sih,” celetuknya.
“Kenapa tiba-tiba banget?”
“Ini Pak Pres yang bilang sendiri noh”
“Apaan dah, freak”
Ia kembali terkekeh.
Biarlah ia sibuk dengan dunianya, sedangkan aku sibuk dengan duniaku.
Pemberhentian selanjutnya: Stasiun Sidoarjo.
Putri terlihat santai, mempersilakan orang-orang yang ada disekitarnya untuk lewat. Binder yang ia pangku sudah tidak ada, sekarang ia sedang membuka laptopnya. Bahkan dengan kondisi setelah gangguan pun, ia masih bisa fokus kepada apa yang ia kerjakan.
Aku tebak pasti dia sedang menulis lead berita.
Orang-orang berdiri.
Anak dan ayah saling membuka jalan.
Para pekerja yang letih mulai bersiap.
Pelajar yang lelah akhirnya merasa lepas.
Inilah destinasiku, dan sayangnya bukan destinasi akhir Putri.
Karena aku yakin perjalanannya masih panjang, dan sepertinya ia masih menikmati perjalanan itu tanpa menghiraukan sekitarnya.
Lantas, apa yang dapat aku lakukan?
“Diliatin mulu, samperin kek,” mulut Daffa menunggingkan senyum.
“Ngapain juga disamperin?”
“Lah, make a move bro!”
“Jangan diganggu, perjalanannya masih panjang. Kita yang mau turun habis ini”
“Emang kenapa?”
Aku masih tertegun, tanganku berkeringat. Mataku tetap tertuju ke jemarinya yang bergerak cepat, seperti hendak mengetik sesuatu yang banyak. Apakah itu lead berita? Atau tugas? Entahlah, aku tidak pernah tahu. Pakaiannya masih terlihat rapi, seperti tadi sore. Sepatunya menghentak-hentak pelan, kepalanya juga mengangguk-angguk, mengikuti alunan irama dari earphone miliknya.
Apakah itu musik K-pop?
Aku membuka aplikasi Spotify-ku.
‘Unrequited Love Playlist’
Musik mulai mengalir dari earphone milikku, mengheningkan suasana kereta yang hampir sampai ke stasiun. Saat kereta melambat, di situlah laguku makin kencang.
Sekali dua kali aku menatap kembali pada Putri. Aku tersenyum tipis melihatnya tenggelam pada hal yang dia kerjakan. Ketika dia menghela napas dan menutup laptopnya, aku ikut merasa lega. Selesai.
Mata kami bertemu.
Atau tidak?
Namun pada saat yang bersamaan ….
Pintu kereta terbuka.
Semua orang di sekitarku, berusaha keluar.
Daffa menarik lenganku, ritmenya cepat, seperti lautan mengarahkan ombaknya kepadaku seketika. Orang-orang berebut keluar menuju peron secepatnya, mereka sudah lelah seharian. Tubuhku terbawa arus manusia dan tarikan dari tangan Daffa.
Tapi pandanganku, masih membeku.
Dalam waktu sepersekian detik itu, semua seakan terdiam.
Dia tak berusaha memanggilku.
Dan aku tak berusaha memanggilnya.
Karena aku tahu,
kereta akan berjalan.
Pintu kereta pun tertutup.
Putri?
Dia melanjutkan perjalannya.
Musikku semakin memekakkan telinga.
Saat semua terdiam.
Penulis: Davney Denofa Hidayat
Editor: Mochammad Narendra Putra Nazar



Comments