Cukup, Satu Putung Saja.

Hei Bung, lihat itu
abu rokokmu masih berjatuhan sementara kamu terus berlari? Saya anggap kamu terlalu
memaksa, atau malah terpaksa.
Ini bukan soal sayatan pisau milik ibu saya,
tidak sengaja terkena tangan waktu itu. Sudah selalu hati-hati, tapi saya tidak pandai
membaca masa depan.
Seperti,
di tempat itu.
Tidak sengaja bau rokokmu menyebar, dibatasi sebuah kaca. Tanpa dugaan apa-apa. Ternyata sudah jatah saya terbakar bersama tembakau di dalamnya.
Bagaimana ini tidak menjadi sulit, jika saya ingin pulang tapi masih bertemu di pertigaan?
Bagaimana ini jadi mudah, jika saya harus seperti tidak sesak nafas? Ternyata,
Sayalah yang harus membersihkan abu rokokmu itu.
ini saya, kamu membakarnya pelan-pelan.
masih di
[Kota S, di penghujung tahun ‘24]
Penulis: Amadea Kayla Archinada
Editor: Claudya Liana



Comments