top of page

Lentera 2025 Membawa Urgensi dalam Kontrol dan Standar di Dunia Digital

Nov 30, 2025
2 min read
Sumber Gambar: Dokumentasi pribadi
Sumber Gambar: Dokumentasi pribadi
Seminar Nasional Lentera 2025 hadir kembali di tahun ini dengan membawa tema “Speak Up and Stand Out: Bangun Ruang Aman Melalui Komunikasi di Dunia Digital”. Tidak hanya membawakan seminar, Lentera 2025 juga menyediakan talkshow dan ruang diskusi sesama peserta berbasis FGD (Forum Group Discussion).

Surabaya, KOMA - Lentera 2025 yang merupakan acara seminar nasional kembali digelar pada Sabtu (29/11/2025) lalu. Tahun ini, Lentera 2025 memasuki tahun ketiganya sebagai salah satu program kerja Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMAKOM) Unair. Acara digelar di Aula Soetandyo, Gedung C Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga dan dihadiri tamu undangan dari Hima Ilmu Komunikasi universitas di Surabaya dan sekitarnya, serta komunitas pengabdian masyarakat di Surabaya.


Dengan mengundang Mytha Eliva Veritasia S.I.Kom, M.A. sebagai pembicara seminar dan Tabitha N. Christy, S.Psi sebagai pembicara talkshow, Lentera 2025 membawa tema berfokus pada pembangunan ruang aman dalam dunia digital. Tema ini sengaja dipilih oleh pihak panitia karena adanya urgensi untuk pemberian kontrol dan standar informasi yang jelas yang disebarkan melalui ruang digital. Deven Reinhard Hartono sebagai ketua pelaksana Lentera 2025 menyampaikan keresahan dan tujuannya dalam pemilihan tema seminar dan talkshow.


“Kita sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi itu melihat urgensi di jaman sekarang, terutama buat anak-anak, itu adalah tentang menguasai ruang digital yang ada banyak informasi yang bersebaran, tapi itu nggak ada kontrol yang jelas, nggak ada standar yang jelas. Dan makanya dari itu kita sebagai (mahasiswa) Ilmu Komunikasi yang memang banyak banget bergerak di dalam dunia digital, kita tentunya punya tanggung jawab untuk memberikan standar tersebut dan bisa menjaga gitu,” ujarnya.


Tema ini diimplementasikan pada topik seminar dengan judul “Komunikasi Empatik untuk Memahami Kekerasan Seksual di Sosial Media”. Mytha, dosen Ilmu Komunikasi Unair dan pembicara seminar Lentera 2025, menjabarkan fakta bahwa kekerasan berbasis gender online (KBGO) secara tidak proporsional berdampak kepada perempuan, komunitas LGBTQ+, dan masyarakat marjinal. Saat ini, data telah menunjukkan bahwa kasus KBGO meningkat secara drastis sebanyak 40,8% di tahun 2024 dari tahun sebelumnya. Bahkan, masih banyak kasus-kasus KBGO yang tidak teridentifikasi karena hal ini banyak terjadi tanpa disadari.


Saat sesi talkshow, Bitha, Founder WEPOSE Indonesia, menyoroti ruang aman anak di media digital. Menurutnya, media sosial bisa dikatakan aman bagi anak-anak bahkan orang dewasa jika mereka bisa merasa bebas mengekspresikan dirinya. Orang tua perlu selalu melakukan pengawasan dan mendampingi anaknya saat berada di dunia digital supaya anak terhindar dari keburukan di media digital.


Acara kemudian diakhiri dengan sesi Forum Group Discussion (FGD). Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 4–5 orang. Study case yang diangkat adalah bagaimana para peserta memosisikan dirinya sebagai kakak yang melihat adiknya bermain game online Roblox namun diam-diam menggunakan KTP kakaknya (peserta) untuk menyalakan fitur voice chat dan mengirim foto pribadinya ke seorang yang mengaku sebagai siswa SMA melalui WhatsApp. Setelah berdiskusi, hasil FGD dipresentasikan secara kelompok.


Semnas Lentera 2025 dilanjutkan dengan pengabdian masyarakat pada hari yang sama. Pengmas Lentera 2025 mengangkat tema “Bijak Memilah dan Kritis Memilih Terhadap Anak di Dunia Digital” yang hanya diikuti oleh panitia Lentera 2025. Acara ini dilaksanakan di LKSA Panti Asuhan ‘Aisyiyah II.   


Penulis: Vlea Viorell Indie Princessiella, Alde Kalya

Editor: Claudya Liana Morizza



Comments


bottom of page